Breaking News:

Kasus Antigen Bekas di Kualanamu

Ternyata 4 Orang Tersangka Rapid Test Daur Ulang Medan Masih Satu Keluarga Asal Musirawas

Nama Desa Lubuk Besar Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut (TPK) Kabupaten Musi Rawas cukup menarik perhatian dalam beberapa hari terakhir.

Kompas.com/ Dewantoro
Picandi Mosko (PC) yang merupakan Bussines Manager PT Kimia Farma dan 4 pegawainya ditetapkan sebagai tersangka kasus daur ulang alat kesehatan rapid test antigen di Bandara Kualanamu. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS - Nama Desa Lubuk Besar Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut (TPK) Kabupaten Musi Rawas cukup menarik perhatian dalam beberapa hari terakhir.

Karena, tiga dari lima orang tersangka rapid test antigen bekas yang ditangkap di Bandara Kualanamu International Airport (KNIA) Medan merupakan warga Desa Lubuk Besar.

Mereka adalah, DJ (20) warga Dusun III Lubuk Besar, Kecamatan Tiang Pungpung Kepungut, Kabupaten Musi Rawas, berperan melakukan daur ulang cotton buds untuk rapid test swab antigen bekas menjadi seolah-olah baru.Kemudian SR (19) kurir yang membawa cutton buds bekas untuk rapid test antigen dari KNIA ke Laboratorium Kimia Farma warga Dusun II Desa Lubuk Besar Kecamatan Tiang Pungpung Kepungut Kabupaten Musi Rawas. Dan M (30) tenaga admin di Laboratorium Kimia Farma Jalan RA Kartini, merupakan warga Dusun II Desa Lubuk Besar Kecamatan Tiang Pungpung Kepungut Kabupaten Musi Rawas yang berperan melaporkan hasil tes ke kantor pusat Kimia Farma Diagnostik.

Bahkan PM (45) Manager Kimia Farma yang beralamat di Griya Pasar Ikan Kelurahan Simpang Periuk Kecamatan Lubuklinggau Selatan Kota Lubuklinggau juga asalnya dari Desa Lubuk Besar Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut Kabupaten Musi Rawas. Keempat tersangka ini juga ternyata masih ada ikatan kekeluargaan yang sangat dekat.

Sementara satu tersangka lagi, berinisial R (21) merupakan warga Kelurahan Muara Kelingi Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas, merupakan tenaga admin hasil tes swab antigen di Posko Pelayanan Pemeriksaan Covid19 Kimia Farma Bandara Kualanamu.

"Semuanya masih ada ikatan kekeluargaan. Sepi (SR) dan Devi (DJ) itu masih keponakannya Can (PM). Sedangkan Juki (M) itu adalah adik ipar Can. Karena adik Can itu isterinya Juki," kata Saparudin (46) Sekretaris Desa Lubuk Besar Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut Kabupaten Musi Rawas, saat dibincangi Sripoku.com di desa setempat, Sabtu (1/5/2021).

Menurut Saparudin, dia sempat satu kelas saat di Sekolah Dasar (SD) dengan PM, yang merupakan otak pelaku rapid tes bekas di KNIA. Namun, sudah sejak lama PM tidak lagi tinggal di desa. Karena itu, pihaknya dan warga Desa Lubuk Besar sangat kaget ketika mendapat kabar bahwa para tersangka ditangkap di Medan, Sumut.
"Can itu memang asal Desa Lubuk Besar, tapi sejak masih bujang atau belum menikah, sudah lama meninggalkan desa ini. Dia tinggal di Lubuklinggau, dan juga saya dengar pernah kerja di Batam, jadi sudah kemana-mana," katanya. (ahmad farozi)

Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved