Breaking News:

Berita Palembang

Jelang Bulan Puasa Marak Anjal dan Pengemis di Kota Palembang, Dinsos Imbau Masyarakat Tak Beri Uang

Banyak yang datang ini dari luar kota Palembang dan kita akan kembalikan ke tempat asalnya bekerjasama dengan Dinsos kabupaten/kota asal.

Penulis: Sri Hidayatun | Editor: Vanda Rosetiati
Tribun Sumsel/ Agung Dwipayana
Manusia silver memberi hormat pada pengendara yang melintas di Simpang Lima DPRD Sumsel beberapa waktu lalu. Manusia silver, badut, manusia gerobak juga anjal dan pengemis marak di Palembang. 

TRIBUNSUMSEL.COM.PALEMBANG - Maraknya pengemis dan anak jalanan yang sering banyak ditemui di lampu merah di Kota Palembang terus menjadi perhatian Pemerintah Kota Palembang.

Berbagai modus dilakukan oleh para pengemis ini mulai dari manusia silver, badut, kolor ijo, manusia gerobak dan lain sebagainya.

Termasuk pula para pengemis yang marak terutama setiap jumat duduk dipingir jalan.

Kepala Dinas Sosial Kota Palembang, Heri Aprian mengaku pihaknya terus melakukan penertiban bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Palembang.

"Kita terus melakukan penertiban dan memang pengemis dan anjal ini semakin marak di tengah pandemi ini," ujarnya, Rabu (24/3/2021).

Tak dipungkiri, akibat pandemi ini memang banyak anjal dan pengemis apalagi memasuki bulan suci Ramadan ini akan menjadi lebih banyak.

"Ya, apalagi jelang Ramadan ini akan kita tingkatkan lagi karena setiap tahun pasti banyak pengemis "musiman" yang datang ke kota Palembang," jelas dia.

Karena itu, pihaknya akan lebih giat melakukan penertiban dan jika didapatkan maka akan kita kembalikan ke asalnya.

"Banyak yang datang ini dari luar kota Palembang dan kita akan tertibkan serta kembalikan ke tempat asalnya bekerjasama dengan Dinsos kabupaten/kota asal yang bersangkutan," beber dia.

Baca juga: Rosyidin Hasan Dilantik Sebagai Penjabat Bupati PALI, Ini Pesan Gubernur Sumsel H Herman Deru

Baca juga: Kapolres Lahat AKBP Achmad Gusti Hartono Luncurkan Lagu Kecapi Pajuhan Kehe, Ini Liriknya

Pihak dinsos berharap masyarakat tidak memberi mereka uang, bagi yang melanggar akan mendapatkan sanksi baik pemberi maupun penerima.

Hal tersebut telah tertuang dalam Perda Nomor 12 tahun 2013.
Masyarakat yang memberi akan dikenakan denda maksimal Rp50 juta dan kurungan selama 3 bulan.

Sejauh ini sudah ada beberapa penangkapan masyarakat yang melanggar dan semuanya akan diserahkan kepada pol PP untuk ditindak lanjuti.

“Kalau memang mau berdonasi lebih baik ke tempat yang sudah ditentukan seperti panti asuhan atau tempat ibadah,” katanya.

Ikuti Kami di Google Klik

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved