50 Tahun Tinggal di Rumah tak Layak Huni, Doa Kalena Dikabulkan Melalui TMMD
Kalena bercucuran air mata. Bukan karena sedih atau sedang kena musibah. Kalena menangis karena bahagia bukan kepalang
Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Prawira Maulana
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kalena bercucuran air mata. Bukan karena sedih atau sedang kena musibah. Kalena menangis karena bahagia bukan kepalang melihat rumahnya dibedah Satgas Tentara Manunggal Membangun Desa ke-110 Kodim 0418 Palembang.
Wanita 71 tahun ini, mengungkapkan, ia sudah mendiami rumah tak layak huni sejak pindah ke Palembang tepatnya di Jalan Taqwa Lorong Sungai Jawi RT 26 RW 07 Kelurahan Sei Selincah Kecamatan Kalidoni Palembang selama 50 tahun.
"Kalau hujan bocor. Dulu dibangun seadanya saja, karena memang kami ini tidak punya apa-apa saat pindah ke Palembang. Sempat menumpang di tanah orang, akhirnya kami beli dan bangun gubuk," ujar Kalena menceritakan kisahnya bersama Alharhuum suaminya Hanafi membangun rumah mereka, Jumat (12/3/2021).
Seiring berjalannya waktu, Kalena bersama suami Hanafi yang telah membeli tanah, memutuskan untuk mendirikan gubuk. Dari gubuk inilah, ia dan suami berusaha untuk membuat rumah yang sedikit lebih besar.
Berada di wilayah perbatasan antara Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin, kayu menjadi bahan yang mudah untuk membangun gubuk mereka. Pohon yang ditebang dan diubah menjadi papan, dimanfaatkan untuk membuat rumah yang menjadi hunian mereka.

Rumah yang dibangun berdinding papan dan beratapkan daun nipah, mereka tinggali hingga memiliki lima orang anak. Di rumah inilah, Kalena bersama sang suami dan kelima anaknya hidup. Bekerja sebagai petani padi, menjadi mata pencarian Kalena dan Hanafi suami Kalena.
Sampai suaminya meninggal, Kalena tetap tinggal dan bekerja sebagai petani padi untuk menghidupi kelima anaknya. Rumah yang dibangun bersama sang suami Hanafi, menjadi tempat tinggalnya bersama kelima anaknya hingga kini.
"Tidak pernah terbayang, kalau rumah saya akan dibongkar dan diperbaiki bapak-bapak tentara (Kodim Palembang, RED). Saya memang punya impian, bisa perbaiki rumah. Tetapi, untuk makan sehari-hari saja kami masih serba kekurangan. Apalagi untuk memperbaiki rumah," ungkapnya sambil meneteskan air mata.
Hingga anaknya menikah, rumah yang dibangun bersama sang suami tetap menjadi hunian mereka. Karena termakan usia, rumah yang telah dihuni Kalena, anak dan cucu-cucunya, mulai banyak yang mengalami kerusakan.
Dinding yang terbuat dari papan, juga sudah banyak rusak dan hanya ditambal menggunakan papan seadanya. Atap yang terbuat dari daun nipah, juga rusak dan diganti seng bekas.
Ketakutan Kalena bila hujan disertai angin kencang beertambah. Rumah yang menjadi tempat ia, anak dan cucunya berlindung bisa-bisa roboh. Sehingga, saat turun hujan terlebih malam hari, Kalena bersama keluarganya memutuskan untuk tidak tidur.
Memang, rumah yang didiami Kalena tak layak huni. Akan tetapi, Kalena bersama keluarganya tetap bertahan mendiami rumah yang memiliki dua kamar tidur ini. Tak hanya itu saja, untuk buang hajat, Kalena dan keluarganya harus keluar rumah. Karena, MCK ada di bagian samping dekat rumah Kalena.
MCK rumah Kalena juga tak layak. MCK, hanya dibuat dari terpal bekas spanduk sebagai dindingnya.
Belum lagi untuk memasak. Kalena bersama keluarganya, masih menggunakan tungku dan kayu api untuk memasak. Tungku kayu api, di buat berada tepat di belakang rumahnya.

Kondisi seperti ini, selama 50 tahun dilewati Kalena bersama keluarganya. Namun, kini Kalena bisa bernapas lega dan bersyukur ketika rumahnya menjadi satu dari dua rumah yang menjadi target bedah rumah TMMD ke-110 Kodim 0418 Palembang.
Ia juga mengaku, sempat tidak percaya saat didatangi tim survei Kodim 0418 Palembang dan menyatakan rumahnya layak untuk dibedah dalam program TMMD ke- 110.