Breaking News:

Cerita Marcus Gideon Nyaris Jadi Pemain Hongkong, Ayah : Jangan, Tetap NKRI

Cerita Marcus Gideon Nyaris Jadi Pemain Hongkong, Ayah : Jangan, Tetap NKRI

BADMINTON INDONESIA
Pasangan ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, berupaya mengembalikan kok dari lawan mereka, Satwik Rankireddy/Chirag Shetty (India), pada laga partai kedua perempat final beregu putra Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (20/8/2018). 

Kecil memang dia belum terpikir. Kalau saya kan cuma ngelatih. Kalau anaknya sebatas dia main-main mending tidak usah. Akhirnya anaknya diputuskan umur 13 itu sungguh-sungguh. Benar-benar serius.

Diapain tidak ada ngeluh. Akhirnya kita latih dengan serius, dia mau. Umur 17-18 dia masuk nasional. Sejak nasional pun tidak didiamkan saja begitu.

Kalau dia pulang pun kita latih lagi, Sabtu atau Minggu, kita tambahin kekurangan-kekurangan. Dan kita beri masukan ke dia.

Di PBSI kamu latihannya harus lebih. Misal orang lain di atas dia latihan pagi-sore sama. Kamu mesti tambah, jam 5 pagi bangun di sana, jam 6 sudah latihan sampai jam 7.

Abis itu sarapan, kamu jam 8 ikuti program seperti yang lain. Akhirnya, mungkin berkat dari Tuhan juga, dia ranking nomor satu dunia.

Anda sempat masuk ranking 7 dunia, sekarang memiliki anak yang melebihi prestasi Anda?

Bangga sekali, anak saya bisa melewati saya. Dan saya senang sekali, anak saya menjadi ranking 1 dunia. Ya semoga anak saya bisa juara dunia, juara olimpiade, harapan saya itu.

Pernah kah seorang Gideon melewati masa-masa sulit? Apa motivasi dari Anda sebagai seorang ayah yang juga atlet?

Waktu itu dia pernah ranking 29. Terus, biasa pelatih kalau ranking segitu disuruh kumpulin kok. Ranking 10 besar saja yang diperhatiin.

Kecewanya dia itu ketika pasangan ganda lain diberangkatkan ke All England. Padahal waktu itu rankingnya tidak ada.

Halaman
1234
Editor: Siemen Martin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved