Berita Syekh Ali Jaber
Cerita Syekh Ali Jaber Jadi WNI, Diminta Uang Rp 150 Juta, Tapi Takdir Allah Malah Gratis
Ternyata, perjalanan panjang Syekh Ali Jaber sebelum jadi WNI. Meski, dalam sejarah keluarga Syekh Ali Jaber berasal dari Indonesia.
Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Vanda Rosetiati
Tahun 2010, ia mengisi acara tausiyah dengan tema nikmatnya sedekah bersama Ustad Yusuf Mansyur. Saat pertama kali dakwah, Ustad Yusuf Mansur yang selalu menjadi translaternya.
Ustad Yusuf Mansur juga yang selalu mendampinginya menjadi translater saat berdakwah. Karena saat itu, belum lancar Bahasa Indonesia.
Ketika sedikit lancar bahasa Indonesia, ia malah ditinggal Ustad Yusuf Mansyur untuk berdakwah secara mandiri.
"Tahun 2011, saya diundang acara buka puasa bersama Presiden SBY. Duduk bersama Kedubes Negara Arab. Tiba-tiba saat itu, penceramah untuk pengisi kultum tidak datang karena macet. Saya didatangi protokol dan dikabarkan penceramah tidak datang. Saya diminta untuk mengisi, kaget apa yang diisi. Apalagi di depan Presiden. Adanya permintaan, saya mau," ungkapnya dalam ceramah.
Baca juga: Syekh Ali Jaber Meninggal Dunia, Medsos Penuh Ucapan Bela Sungkawa, Pasang Foto Ulama Asal Madinah
Lanjut cerita Syekh Ali Jaber, sebelum kultum, protokol menyampaikan kultumnya jangan lama maksimal 10 menit. Kultum selama10 menit selesai, ternyata protokol salah hitung waktu berbuka. Masih berbuka masih menunggu waktu 40 menit lagi.
Di datangi seorang imam besar Masjid Istiqlal, meminta dirinya agar mengisi selawat, zikir dan lainnya. Lama dilaksanakan, tetapi waktu magrib belum tiba. Kembali, ia didatangi protokol. Presiden meminta isi lagi kultum sebelum Magrib.
"Saya kaget. Satu acara, dua kali isi kultum. Jadi saya naik lagi untuk isi kultum. Biasa, sebelum ceramah biasa pembukaan pakai bahasa Arab. Ketika itu, Bapak Presiden mengambil alat terjemahan di depannya. Begitu saya berkata, yang saya muliakan yang saya cintai, ayah kami Bapak Presiden RI, beliau kaget dan langsung turunkan alatnya," ungkap Syehk Ali Jaber.
Karena memang, menurut Syekh Ali Jaber, Presiden SBY melihatnya saat itu penampilannya bukan seperti orang Indonesia.
Setelah itu, ternyata takdir dari Allah baik lagi. Ia kembali dipanggil ke istana negara, dan malah Presiden SBY memanggil untuk duduk di dekatnya. Sambil ngobrol, tak menyangka ia mendapat kejutan luar biasa.
"Presiden berkata mau tidak jadi WNI. Padahal, sebelumnya sudah ada yang menawarkan jadi WNI. Tetapi diminta uang Rp 150 juta. Takdir baik, Allah kasih gratis. Presiden malah yang menawarkan.
Malah Presiden mengungkapkan saat itu, kami sudah kasih kewarganegaraan WNI ke pemain bola. Tetapi belum pernah juara. Kalah Mulu. Sampai ke ke final kalah lagi. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk Indonesia. Ingat persis bahasa beliau itu," ceritanya.
Setiap ketemu Presiden SBY, selalu mengucapkan terima kasih kepadanya sudah jadi WNI. Ia membalas kepada Presiden juga terima kasih karena sudah menjadikan dirinya WNI.
Dari situlah, saat akan jadi WNI mendapat tantangan yang berat. Ada proses, salah satunya mundur dari warga negara Arab. Di situ tantangannya.
Di sini, Syekh Ali Jaber harus memilih pilih Arab atau Indonesia.
Sehingga, ia memutuskan untuk musyawarah kepada guru dan keluarga di Arab.
Guru dan keluarga mendorong, dimanapun berada agar bisa bermanfaat untuk orang banyak.
"Dengan Bismillah, saya beranikan diri mundur dari Negara Arab jadi WNI. Ternyata, keputusan ini menjadi takdir dan ternyata takdir itu baik. Selama Indonesia, diberikan kemudahan. Bisa Bahasa Indonesia dan sangat dimudahkan Allah. Jadi WNI, merupakan karunia dari Allah SWT, ungkapnya.