Berita Syekh Ali Jaber

Cerita Syekh Ali Jaber Jadi WNI, Diminta Uang Rp 150 Juta, Tapi Takdir Allah Malah Gratis

Ternyata, perjalanan panjang Syekh Ali Jaber sebelum jadi WNI. Meski, dalam sejarah keluarga Syekh Ali Jaber berasal dari Indonesia.

Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Vanda Rosetiati
Instagram
Syekh Ali Jaber saat tausiyah tiga bulan lalu yang di-posting di YouTube, Syehk Ali Jaber menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi WNI. Syekh Ali Jaber tutup usia hari ini, Kamis (14/1/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Meninggalnya ulama Indonesia Syekh Ali Jaber, pastinya meninggalkan duka bagi umat Islam Indonesia.

Ternyata, perjalanan panjang Syekh Ali Jaber sebelum jadi WNI. Meski, dalam sejarah keluarga Syekh Ali Jaber berasal dari Indonesia.

Di tausiyah Syekh Ali Jaber tiga bulan lalu yang di-posting di YouTube, Syehk Ali Jaber menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi WNI.

Dalam ceramahnya yang berdurasi 19.30 menit ini, Syekh Ali Jaber mengungkapkan kunci sukses dunia akhirat, percaya takdir.

Ia bisa berkata begitu, karena ia banyak belajar perjalanan hidup bersama takdir.

Ia menceritakan, saat SD di Madinah, hampir setiap hari sedekah 1 real untuk Palestina.

Dapat uang saku dari orangtua 3 real, 1 real untuk makan, 1 real untuk minum dan 1 real untuk sedekah Palestina.

Saat itu, muncul cita-cita ingin ke tanah suci Palestina. Bisa silaturahmi dan bisa ziarah ke Masjid Aqso.

Lama tinggal di Madinah, belum terkabul cita-cita itu. Hingga akhirnya, tahun 2008, dapat panggilan jadi Imam Salat di Masjid Sunda Kelapa.

Di Indonesia, sambutan masyarakat luar biasa. Setidaknya, menjalani tugas selama satu bulan menjadi iman tarawih dan tahajud. Meski saat itu, sebagai orang asing bisa mendapat kemudahan izin tinggal.

"Saat itu, Wapresnya Bapak Jusuf Kalla dan diberi kemudahan bolak balik Madinah Indonesia. Waktu itu, Subhanallah, kalau disuruh pilih Madina Mekkah Indonesia. Pastinya Madinah. Karena salat di Madinah bisa 100 kali lipat. Masjidil Haram 1000 kali lipat. Kalau bicara berkah, Madinah lebih berkah, suci lebih suci," ceritanya.

Baca juga: Fakta Ayah Angkat Syekh Ali Jaber, Tokoh Masyarakat dan Orang Terkaya di Sumsel

Baca juga: Tokoh Agama Kharismatik yang Selalu Menyejukkan, Kapolda Sumsel Kenang Syekh Ali Jaber

Tinggal di Indonesia tahun 2008, berlanjut tahun 2009, 2010. Karena baru pertama kali tinggal di Indonesia, ia belum bisa bahasa Indonesia.

Ada satu teman baik, mengajarkannya Bahasa Indonesia. Hanya empat ungkapan yakni Apa kabar, bagus, mau kemana, aku cinta kepadamu.

Jadi, saat itu setiap ia bertemu dengan orang, hanya itu yang diucapkan. Tidak tahu tanggapan orang, saya hanya mengucapkan itu saja.

"Ternyata, saya baru tahu, takdir itu baik dari Allah," katanya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved