Breaking News:

Berita OKU Timur

Adok Jajulu, Budaya Pemberian Gelar Adat Suku Komering, Lestari Sejak Zaman Kerajaan Islam

Prinsipnya Adok/Jajulu itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi yang mendapatkannya. Karena itu sebagai identitas, seseorang itu lahir dalam keluarga.

Editor: Vanda Rosetiati
SRIPO/RESHA AKASIA
Kapolres OKU Timur AKBP Dalizon diberikan Gelar Adat Lembaga Pembina Adat di OKU Timur saat baru pertama menjabat di Kabupaten OKU Timur, Sumsel. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Adok Jajulu, budaya pemberian gelar adat Suku Komering lestari sejak zaman kerajaan Islam sampai era modern saat ini.

Budaya Adok Jajulu ini diterapkan di daerah yang berdiam Suku Komering. Di antaranya OKU Timur, Ogan Komering Ilir (OKI) di Sumsel, Lampung dan sebagainya.

Ketua Lembaga Pembina Adat OKU Timur, Leo Budi Rachmadi mengatakan bahwa pemberian Adok/Jajulu tersebut sudah ada sejak Zaman Kerajaan Islam. dimana, hal itu menunjukkan status sosial di tengah masyarakat.

"Karena dahulu era tahun 80-an ke bawah, itu mencerminkan status sosial dan keberadaan ekonomi. Kalau Adok Sultan misalnya, sudah kelihatan dari rumah besar, tanah dan sawahnya lebar dan lain-lain. Walaupun di masa sekarang, belum tentu demikian," ujarnya saat diwawancarai, di kediamannya, Jumat (18/12/2020).

Namun ia mengatakan, pada prinsipnya Adok/Jajulu itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi yang mendapatkannya. Karena itu sebagai identitas, seseorang itu lahir dalam keluarga mana.

"Kita harus bangga, lahir dari Guguk (Akas/Kakek) kita siapa," ucapnya.

Untuk mendapatkan gelar tersebut, ia mengatakan ada 4 mekanisme pemberian Adok/Jajulu itu.

Pertama itu, adalah Adok Penyeimbang.

"Dimana ia diberikan nama kakeknya, kepasa cucu tertua dari anak laki-laki tertua," ucapnya.

Misalkan, Adok dari kakeknya ialah Sultan Raja Mas. Maka saat si cucu laki-laki tadi bersunat atau menikah, baru ia diberi gelar tadi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved