Cerita Khas Sumsel
Ketua MA Muhammad Syarifuddin Asli Putra OKU, Gemar Mencari Ikan, Ini Kisah Perjuangannya
Ketua MA Dr H Muhammad Syarifuddin di mata saudara-saudaranya merupakan sosok yang mengayomi dan bertanggung jawab
Namun Syarifuddin memang terkenal tangguh dan tidak pernah mengeluh.
Menurut Musiah, waktu SMA Syarifuddin bercita-cita ingin menjadi dokter, namun ada insiden yang mendorongnya menganti cita-citanya menjadi hakim.
Saat itu ada uwaknya (kakak kandung ayahnya) tersangdung hukum.
Uwaknya H Damsik diperdaya orang hingga masuk penjara.
Damsik dituduh memiliki utang banyak, karena Damsik tidak pandai membaca.
Syarifuddin yang saat itu masih duduk dibangku SMA sangat terpukul melihat uwaknya dijebloskan kepenjara padahal kesalahannya tidak terlalu fatal.
Sejak saat itulah Syarifuddin bercita-cita ingin menjadi hakim yang adil dan mengayomi masyarakat serta bertkad akan menjadikan hukum sebagai panglima.
Setelah lulus SMA, Syarifuddin merantau ke Yogyakarta dan diterima di Fakultas Hukum sesuai dengan keinginannya.
Lulus kuliah dengan nilai terbaik, Syarifuddin lalu mengikuti tes cakim dan berhasil lulus.
Pria kelahiran 17 Oktober 1954 ini mengawali kariernya sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Banda Aceh pada 1981.
Ia juga sempat menjadi Wakil Ketua Pengadilan Negeri Muara Bulian, Jambi dan Ketua Pengadilan Negeri Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Pada tahun 1999-2003 menjadi Ketua Pengadilan Negeri Baturaja.
Kemudian mendapat promosi menjadi hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2003.
Selanjutnya menjadi Ketua Pengadilan Negeri Bandung pada 2006.
Pada 2011 mendapatkan promosi sebagai Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Palembang.
Di tahun yang sama suami dari Ny Budi Utami Syarifuddin ini menjabat sebagai Kepala Badan Pengawasan Mahkamah Agung.