Ekspor Karet Sumsel ke China Babak Belur Dampak Virus Corona, Harga Jadi Anjlok

Penyebaran virus Corona yang menyerang Tiongkok berdampak pada turunnya volume ekspor karet dari Sumsel

Ekspor Karet Sumsel ke China Babak Belur Dampak Virus Corona, Harga Jadi Anjlok
Tribun Sumsel/ Edison
Foto Ilustrasi : Petani karet ketika mengumpulkan hasil getah karet yang ada di mangkok penampung di batang karet dikebun miliknya di kawasan Kelurahan Sindur Kota Prabumulih, Kamis (09/01/2020). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Penyebaran virus Corona yang menyerang Tiongkok berdampak pada turunnya volume ekspor karet dari Sumsel.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet (Gapkindo) Sumatera selatan, Alex K Edy mengatakan, ekspor karet setiap tahun stop sementara waktu ke China karena hari raya Imlek.

Biasanya lima hari tidak ada ekspor karena semua merayakan Imlek sehingga pabrik tutup tidak berproduksi dan ekspor juga setop.

Hanya saja tahun ini situasinya berbeda karena pasca Imlek Tiongkok dikejutkan dengan serangan virus Corona yang juga berdampak pada industri pengolahan ban di sana.

Harga Karet Jatuh, Petani di Kabupaten PALI Dipersilakan Ajukan Bantuan ke Pemerintah

Karyawan dikarantina sehingga aktivitas perusahan stop sehingga saat pabrik kembali dibuka harga karet anjlok.

Daya beli perusahaan Tiongkok turun juga berdampak anjloknya harga karet dunia.

Alex mengatakan sebelumnya harga karet sempat naik 1.5 Dollar Amerika per kilogram, tapi saat ini kembali turun di 1,3 Dollar Amerika.

"Tiongkok negara tujuan ekspor terbesar sehingga harga karet dunia anjlok saat permintaan di sana turun," ujarnya, Selasa (11/2/2020).

Hingga kini ekspor masih mengandalkan negara Amerika, India dan Brazil meski jumlah tidaklah sebanyak China.

Alex mengatakan ekspor memang masih lebih besar dibanding konsumsi domestik dalam negeri.

Daya beli karet dalam negeri hanya 600 ribu ton pertahun, sedangkan eskpor karet dalam satu tahun mencapai 1 juta ton dengan ekspor terbesar ke China.

Ekspor Karet ke China Dibatasi Dampak Corona, Harga Karet Merosot Tajam

"Kita saat ini tidak boleh terpaku pada satu negera tujuan ekspor saja, tapi sudah mulai mengalihkan kerjasama dengan negara lain,untuk tetap menjaga stabilitas harga karet."katanya.

Alex berharap agar pemerintah mulai melakukan hililisasi karet agar tidak tergantung dengan negara tujuan ekspor.

Apalagi saat ini tidak hanya Indonesia yang memiliki perkebunan karet, tapi beberapa negara seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia juga memiliki perkebunan karet yang menjadi saingan ekspor.

Penulis: Hartati
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved