Berita PALI

Harga Karet Jatuh, Petani di Kabupaten PALI Dipersilakan Ajukan Bantuan ke Pemerintah

Harga Karet Jatuh, Petani di Kabupaten PALI Dipersilakan Ajukan Bantuan ke Pemerintah

Harga Karet Jatuh, Petani di Kabupaten PALI Dipersilakan Ajukan Bantuan ke Pemerintah
Tribun Sumsel/ Edison
Ilustrasi 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALI - Harga getah karet kualitas mingguan di wilayah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kembali menurun, Kamis (6/2/2020).

Kondisi ini telah dirasakan warga sejak sepekan terakhir, dimana harga getah karet di pasar getah berada di kisaran Rp 6.000.

Keadaan ini membuat gundah para petani, sebab dengan turunnya harga getah dirasa petani membuat penghasilannya jauh berkurang.

Getah karet di pasar getah Simpang Raja Kelurahan Handayani Mulya Kecamatan Talang Ubi harganya paling tinggi hanya menembus angka Rp 6.200/kg.

Jambret yang Beraksi di Jakabaring dan Kambang Iwak Palembang Ditembak Jatanras

"Harganya bukan turun pak tapi terjun, sebab pada minggu lalu harga getah mencapai Rp 7.700/kg, tapi sekarang hanya Rp 6.200/kg," kata Nasar, salah satu petani karet ditemui di Pasar Getah, Kamis.

Menurutnya, dengan turunnya harga getah omsetnya turun drastis hingga 25 persen, belum lagi hujan yang kerap turun pada siang hari.

"Produksi getah juga berkurang karena sering ditimpa hujan. Kami hanya pasrah hadapi kondisi ini. Kami harap dengan ini pemerintah untuk menekan harga kebutuhan pokok," jelasnya.

Iis Dahlia Naik Pitam, Tak Terima Suaminya Dipanggil Tak Sopan Oleh Pramugari: Saya Istrinya

Hendi, petani karet asal Jerambah Besi Kecamatan Talang Ubi berharap ada upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi getah petani dengan memberikan pupuk atau penyuluhan kepada petani karet supaya meski harganya murah namun produksi melimpah.

Sementara, Erizon Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI menyebut bahwa petani bisa ajukan permohonan bantuan melalui kelompok tani yang didampingi petugas penyuluh lapangan.

"Kami juga berupaya memberikan solusi lain agar petani tidak tergantung pada hasil sadapan karet saja, supaya ketika harganya jatuh, ada sumber lain yang bisa menopang penghasilannya." jelasnya.

Saat ini, kata dia, pihaknya tengah mengembangkan tanaman serai wangi, sebab tanaman tersebut saat ini nilai jualnya cukup tinggi.

Nemun demikian, sebelum mengembangkan tanaman serai wangi, Dinas Pertanian PALI diakui Erizon tengah melakukan penjajakan dengan perusahaan yang bakal menampung hasil panennya.

"Saat ini kita mengejar kerjasama dengan pihak perusahaan pengolahan serai wangi. Sebab percuma kalau tamanan melimpah tapi tidak ada yang menampung. Tapi mudah-mudahan kerjasama ini bisa terlaksana," katanya.(cr2)

Editor: Siemen Martin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved