Berita OKI

Mengenal Sejarah Sistem Lelang Lebak Lebung di Sumsel, Ada Sejak Zaman Kesultanan Palembang

Lahan rawa lebak di Ogan Komering Ilir (OKI) mampu menyumbang penerimaan daerah mencapai 6,8 miliar Rupiah

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Wawan Perdana
Istimewa
Foto ilustrasi warga mencari ikan di rawa lebak Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) 

TRIBUNSUMSEL, KAYUAGUNG-Lahan rawa lebak di Ogan Komering Ilir (OKI) mampu menyumbang penerimaan daerah mencapai 6,8 miliar Rupiah.

"Dari hasil Lelang Lebak Lebung di 13 Kecamatan, menyerap penerimaan daerah 6,8 Milyar," ungkap Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Hasanudin melalui Kepala Bidang Perikanan Tangkap Romico Iswadi, Kamis (28/11/2019).

Ditambahkan Romico, capaian ini melebihi target sebelumnya yang hanya sebesar Rp 5,8 Miliar.

"Ya bisa dikatakan over target, paling tinggi di Kecamatan Lempuing Jaya sebesar 1,4 Milyar dari harga penawaran 1,3 miliar," jelasnya.

Hasil Kejurnas Bulutangkis 2019 : Mia Bangga Persembahkan Medali Emas Pertamanya untuk Sumsel

Hak usaha penangkapan ikan areal rawa di Ogan Komering Ilir (OKI) diatur dengan sistem pelelangan yang telah berlangsung sejak lama, dan dikenal dengan nama Lelang Lebak Lebung (L3).

Sistem ini telah ada sejak zaman kesultanan palembang dan diteruskan pada zaman Hindia Belanda melalui pemberian kuasa penuh kepada pemerintahan marga yang diketuai oleh seorang Pasirah.

Kini sistem lelang lebak lebung diatur melalui Peraturan Daerah nomor 18 Tahun 2010 Juncto Peraturan Daerah Nomor 14 tahun 2015 serta Peraturan Bupati OKI Nomor 72 tahun 2016 tentang Pengelolaan Lebak Lebung dan Sungai dalam Kabupaten OKI.

Tujuannya untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat desa.

Ini Penjelasan Anita Mengapa Pembahasan RAPBD Sumsel 2020 Molor, Data Tidak Sinkron

"L3 jadi Primadona PAD namun dari Hasil tersebut, 50 persen dikembalikan ke desa sebagai sumber pendapatan desa baik desa yang ada objek lelang maupun tidak," jelas Romico.

Selain menjadi sumber pendapatan daerah dan desa, hasil lelang juga digunakan untuk pelestarian rawa lebak dan ekosistemnya serta pengawasan pemanfaatan lebak.

"Pembenihan kembali (restocking) jadi kewajiban pengemin menjelang hingga akhir pengelolaan areal besarannya 5 persen dari nilai objek," tuturnya.

Dalam mengelola lebak, Pengemin (pemenang lelang) juga harus memenuhi beberapa persyaratan dan kewajiban.

"Syaratnya yakni KTP-nya harus domisili OKI, minimal menetap 6 bulan di OKI, tidak boleh mencari ikan dengan merusak lingkungan seperti menggunakan strom, bom air atau zat kimia, itu dilarang keras," tegasnya.

Rilis 2 Buku Saya Pamit, Ria Ricis Disebut Rebut Lahan Livia Oktora, Beberkan Fakta Mengejutkan

Terkait lahan persawahan yang masuk objek lelang dijelaskan Romico bahwa berdasarkan Perda siapapun tidak boleh melakukan penangkapan ikan kecuali dg dengan izin atau kesepakatan dengan pemilik/pengolah sawah.

"Itu pun bagi pemilik sawah/lahan yg menjadi area objek lelang lebak lebung sekedar untuk keperluan makan dan tidak untuk diperjual belikan," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved