Pengamat Teroris Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Pro ISIS
Pengamat Teroris Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Pro ISIS
TRIBUNSUMSEL.COM - Pengamat Teroris, Ridwan Habib mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri diduga jaringan Pro ISIS.
Dalam tayangan Breaking News Kompas TV, Ridwan menyatakan bahwa pelaku yang nekat meledakan diri di Polrestabes Medan dinilai sangat berani.
"Ada banyak kemungkinan juga, apakah pelaku ini tergabung dengan JAD atau jaringan teroris yang lain," jelasnya.
• Polisi Geledah Rumah Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Baru 2 Bulan Jadi Ojek Online
• BREAKING NEWS : Polisi di Palembang Dikeroyok 2 Pria Berpakaian Sipil, Dihajar di Tengah Jalan
• Ini Kata Manajemen Gojek, Ketika Pelaku Bom Bunuh Diri Pakai Jaket Gojek
• Polisi Berseragam Dikeroyok 2 Pria di Jalan, Ini Kabar Terakhir Polisi dan Dua Pria Itu
Terduga pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan tewas dengan tubuhnya hancur akibat ledakan bom.
Identitas pelaku peledakan bom bunuh diri akhirnya terungkap. Pelaku seorang mahasiswa warga Jalan Nangka Medan Petisah.
Pelaku berinisial RMN usia 24 tahun merupakan warga Medan asli diduga meledakkan dirinya sendiri saat memasuki komplek Mapolrestabes Medan, Jalan HM Said Kota Medan, Rabu (13/11/2019).
Pelaku peledakan bom bunuh diri yang mengguncang Mapolrestabes terlihat dalam rekaman CCTV.
Dalam rekaman CCTV tersebut tampak RMN sedang mengenakan setelan jaket hijau kombinasi hitam sedang berjalan mengenakan ransel.
Gambar rekaman CCTV ini beredar di grup WhatsApp, hingga akhirnya pria itu meledakkan diri dan terdengar suara ledakan yang cukup keras di Mapolrestabes Medan, Rabu pagi.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, pelaku ledakan bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Rabu (13/11/2019), diketahui berjumlah satu orang.
Pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan (WA grup jurnalis)
Saat ini, tim yang terdiri atas Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Inafis, dan Pusat Laboratorium Forensik masih di lapangan untuk melakukan proses olah tempat kejadian perkara (TKP).
Hal itu dilakukan guna memastikan identitas pelaku.
"Nanti dengan teknologi yang dimiliki Inafis, nanti sidik jarinya (jika) berhasil diambil dengan baik, dan pelaku juga memiliki e-KTP, nanti database tersebut akan terkoneksi dengan data Dukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil)," kata Dedi seperti dikutip dari Kompas TV.
"Sehingga dalam waktu yang tidak lama identitas pelaku akan diketahui," ujar dia.
Setelah identitas diketahui, ia menambahkan, nantinya Tim Densus 88 Antiteror Polri akan melakukan pengembangan.