Pembunuhan Mahasiswi di Muara Enim

Fatmi Diduga Korban Pemerkosaan, WCC Desak Pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Direktur Eksekutif Women Crisis Center (WCC) Palembang, Yeni Rosalini merasa sangat miris, karena banyak kasus-kasus yang korbannya perempuan

Penulis: Linda Trisnawati |
Tribun Sumsel/ Euis Ratna Sari
Direktur Eksekutif Woman Crisis Center (WCC) Palembang, Yeni Roslaini 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Fatmi Rohanayanti (20 tahun), mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang jadi korban pembunuhan sadis dan dugaan pemerkosaan, Kamis (31/1/2019).

Direktur Eksekutif Women Crisis Center (WCC) Palembang, Yeni Rosalini merasa sangat miris, karena banyak kasus-kasus yang korbannya perempuan.

Dan ini membuktikan bahwa perempuan itu rentan dengan kekerasan, terutama kekerasan seksual. Korban dibunuh didahului dengan pemperkosaan.

"Untuk itu semakin mendesak disahkanya rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual (PKS)."

"Dengan adanya undang-undang tersebut bisa memenuhi hak-hak korban dan juga dapat memberikan pidana kepada pelaku, sehingga memberikan efek jera kepada pelaku," ujar Yeni saat dikonfirmasi, Jumat (1/2/2019).

Suaminya Disebut Musisi Palsu oleh Jerinx SID, Lihat Murkanya Ashanty Hingga Ingatkan 1 Hal ini

20 Lagu Galau dan Sedih Populer 2019 dan Sepanjang Masa, Armada, Judika, Azmi, dan Cara Download MP3

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa selama ini pelaku-pelaku kekerasan seksual tetutama sesuai pasal 285 KUHP harus ada saksi, baru bisa diproses.

Nah kasus-kasus seperti itu kan sulit ada saksi.

Paling jadinya kasus pembunuhan. Untuk pembunuhan pun pembuktiannya agak sulit. Untuk itu perlu undang-undang yang mengatur kekerasan seksual.

"Sedangkan untuk para orang tua saya menyarankan bangun komunikasi dengan anak. Bukan berarti mencurigai tapi memantau aktivitas anak, misal hari ini apa yang buat dia senang atau apa yang buat dia kesel," katanya.

Lalu tanya kan kepada anak yang buat senen atau betek hari ini apa. Kemudian kalau seneng juga tanya kenapa, misal kalau senang karena ada yang suka atau baru punya pacar dari situ bisa mencari tahu siapa yang dia sukai telusuri dan tanya orangnya seperti apa.

Bayi 11 Bulan Tewas Usai Dibakar Hidup-hidup Oleh Kakek dan Neneknya, Tak Diduga Ini Penyebabnya

Kemenpora Akhirnya Cabut Surat Edaran Imbauan Nyanyikan Indonesia Raya di Bioskop, Ini Alasannya

Apakah baru dikenal, karena banyak juga yang baru kenal di Facebook, namanya dunia maya ya siapa yang tahu. Yang sebenarnya seperti apa.

"Kami juga pernah menangai ada juga kasus yang awalnya kenal dari Facebook, lalu kopi darat dan ketemuan. Dibawa ke rumah pelaku dan diperkosa."

"Maka hal-hal begini lah yang harus diantisipasi, untuk itu perlu komunikasi kepada anak. Kita harus tahu keseharian anak, senang kesal marah anak harus tahu," cetusnya.

Misal kalau kesel bisa jadi yang dia keselin dendam. Karena dendam bisa hilaf mata baik laki atau perempuan bisa melakukan segala cara, misal wah dia belum tahu siapa saya.

Inilah 5 Caleg Eks Napi Korupsi di Sumsel yang Tak Diumumkan KPU RI, Data Terbaru

Kesal Motor Orangtuanya Sering Digadaikan, Pria di Palembang ini Laporkan Adik Kandungnya ke Polisi

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved