Berita Palembang

Urai Kemacetan, Dirjen Perhubungan Darat Pertimbangkan Aturan Ganjil Genap di Jembatan Ampera

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi mempertimbangkan soal pemberlakuan sistem ganjil-genap di Jembatan Ampera Palembang

Urai Kemacetan, Dirjen Perhubungan Darat Pertimbangkan Aturan Ganjil Genap di Jembatan Ampera
TRIBUNSUMSEL.COM/ABRIANSYAH LIBERTO
MACET - Suasana kemacetan di Kawasan Jembatan Ampera, Palembang beberapa waktu lalu. Dirjen Perhubungan darat mengkaji penerapan aturan ganjil genap di Jembatan Ampera Palembang. TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAHBLIBERTO 

Contohnya, seperti yang baru terjadi Senin (19/11/2018) sore kemarin.

Arus lalu lintas yang begitu padat membuat kemacetan semakin mengular di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga menunju Ke Jembatan Ampera dan begitupun sebaliknya.

Kepolisian Lalu Lintas pun terpaksa harus menutup sejumlah ruas jalan dan mengalihkan arus lalu lintas yang hendak menuju ke kawasan Seberang Ulu dan sekitarnya.

Baca: Besok 1.500 Sopir Angkutan Truk Batu Bara Demo di Kantor Gubernur Sumsel, Ini Tuntutannya

Baca: Pasangan Suami Istri asal Muba Meninggal, Jadi Korban Kecelakaan di Jalan Palembang-Betung Km 57

Erwin, salah seorang warga Perumahan Ogan Permata Indah (OPI) Jakabaring meminta agar persoalan kemacetan yang kerap terjadi untuk segera dibuatkan solusi terbaik.

"Kami warga Seberang Ulu sebenarnya sudah lelah saat harus melintas di Jembatan Ampera setiap pagi dan sore, tapi mau tidak mau harus tetap dilintasi karena aksesnya cuma itu yang terdekat dari kantor saya di Sekip."

"Kalau ke Musi II terlalu jauh memutar. Kalau bisa ini ada solusinya, terkadang bawa motor pun masih kena macet," ujarnya, Selasa (20/11/2018)

Pertama Diterapkan Tahun 2016

Ketika kebijakan ganjil genap pertama kali diterapkan di sejumlah jalan protokol di Jakarta tahun 2016 lalu.

Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta beserta Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya dikutip dari kompas.com, sudah menyepakati penentuan pelat ganjil atau genap mengacu pada satu angka yang ada di belakang.

Dengan demikian, kendaraan dengan pelat misalnya B 1234 akan digolongkan sebagai kendaraan dengan pelat genap mengacu pada angka 4.

Untuk angka 0 masuk hitungan genap lantaran dihitung selang-seling dengan angka 1 sesudahnya yang masuk golongan ganjil.

Secara teknis, pembatasan kendaraan dengan sistem pelat nomor ganjil genap akan dilakukan dengan hanya memperbolehkan kendaraan berpelat nomor genap melintas pada tanggal genap.

Sebaliknya, kendaraan dengan pelat ganjil hanya diperbolehkan melintas pada tanggal ganjil.

Editor: Wawan Perdana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved