Eksklusif Tribun Sumsel
EKSKLUSIF: Media Cuma Cari Keburukan, Kaum LGBT Bilang 'Jangan Pikir Kami Selalu Senang-senang'
“Jangan pikir kami ini selalu bersenang-senang, menikmati apa yang diperoleh selama ini. Adakalanya kami ini berpikir, sedih, mengetahui pilihan hidup
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Nada suaranya tiba-tiba meninggi setelah obrolan selama satu jam itu akan berakhir.
Andre, gay di Palembang yang dijumpai awal pekan lalu protes penulisan berita di media massa hanya mencari keburukan komunitas penyuka sesama pria itu.
“Jangan pikir kami ini selalu bersenang-senang, menikmati apa yang diperoleh selama ini. Adakalanya kami ini berpikir, sedih, mengetahui pilihan hidup yang tidak diterima oleh agama dan orang banyak ini,” kata Andre, Kamis (4/2) pekan lalu.
Suasana ruangan kerja suatu organisasi sosial kemasyarakatan yang dihuni delapan orang sore itu, mendadak hening.
Anto, sesama gay yang hadir pada saat itu menambahkan, meski gay secara pribadi dia menolak dilegalkan pernikahan sesama jenis di negara ini.
Ia jujur, selama ini memperoleh banyak kepuasan materi hasil menawarkan jasa layanan seks. Bisa jalan-jalan ke luar negeri, makan enak, dan punya pakaian bagus.
Tetapi juga disadarinya bahwa pilihan ini tidak diperbolehkan agama.
Anto, pria berkulit putih dan memiliki jambang ini bisa dikatakan diva alias koordinator gay di Palembang.
Ia kerap menjadi orang yang paling sibuk mengumpulkan sesama gay setiap hendak menggelar acara.
Anto dan Andre ikut berkomentar mengenai maraknya pemberitaan tentang komunitas Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Meski gay, Anto cukup paham aktivitas lesbi, biseksual, dan waria di Palembang.
Taman Simpang Polda dan room karoke menjadi tempat favorit komunitas ini berkumpul. Biasanya pada malam minggu mereka akan ramai mencari pasangan, melepaskan penat, atau hanya sekedar saling tukar pikiran.
Sekitar lima tahun lalu, komunitas ini banyak berkumpul di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB). Hubungan gay dan waria sempat tidak harmonis.
Persoalannya dipicu oleh banyaknya gay yang merebut pria yang selama ini jadi pelanggan waria.
Pria itu mau saja berpaling karena gay mau membayar lebih mahal ketimbang harus membayar ke waria. Lantas komunitas waria yang tadinya sudah menghabiskan uang untuk berdadan supaya terlihat cantik cemburu.
“Sering gay yang ketahuan mangkal di BKB dikeroyok, bahkan di tengah malam dilempar ke kolam air mancur,” kata Anto yang hari itu memakai kemeja kotak-kotak dan celana jins.