Bakso Goreng Tak Higienis Diproduksi 80 Kg Per Hari

Dalam sehari, sambung Yanti, biasanya produksi bakso ikan sebanyak 80 kg. Namun, saat musim marema, seperti sehabis Lebaran

KOMPAS.com/Reni Susanti
Pembuatan adonan bakso goreng di Pasar Induk Gedebage Bandung. 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANDUNG – Pabrik rumahan bakso goreng (basreng) di Pasar Induk Gedebage sudah beroperasi selama 13 tahun. Sebelumnya, pabrik ini memproduksi bakso sapi. Namun, karena fluktuasi harga daging sapi tidak bisa diprediksi, pabrik tersebut banting setir ke bakso ikan atau basreng.

“Harga ikan lebih stabil, jadi beberapa tahun ini kami beralih ke bahan basreng,” ujar salah satu pekerja, Yanti kepada Kompas.com, belum lama ini.

Dalam sehari, sambung Yanti, biasanya produksi bakso ikan sebanyak 80 kg. Namun, saat musim marema, seperti sehabis Lebaran, produksi bisa mencapai 2 kuintal bakso.

Bakso-bakso tersebut dipasarkan ke tiga pasar yakni Pasar Induk Gedebage, Pasar Ujungberung, dan Pasar Ciwastra. Selain itu, pihaknya mengantarkan pesanan ke beberapa sentra produksi makanan olahan dari bakso. Seperti sentra makanan olahan kripik bakso di Cileunyi, Kabupaten Bandung.

“Ada pula yang datang kesini untuk membeli langsung,” ujarnya.

Yanti menawarkan bakso ikan dalam dua harga. Untuk bakso berukuran sedang ia jual seharga Rp 450 per bakso, sedangkan ukuran sedang ia jual seharga Rp 550 per bakso. Di pasaran sendiri, harga bakso bisa menjadi Rp 500 - Rp 700 per buah. Namun, jika sudah diolah, harga satu bakso bisa mencapai Rp 1.000 per buah.

“Lebih menguntungkan kalau diolah dulu baru dijual. Seperti pembuatan kripik bakso, untungnya bisa gede. Tapi memang buatnya susah, terutama saat menjemur. Kalau menjemurnya terlalu kering, bisa jadi kerupuk, kalau masih basah, kripiknya enggak enak,” imbuhnya.

Biasanya, sambung Yanti, dirinya maupun sang kakak yang merupakan pemilik pabrik tersebut kerap menyarankan para pelanggannya untuk berbisnis kripik bakso. Selain keuntungannya lebih besar, daya tahan bakso lebih lama, dan tentunya lebih menguntungkan bagi perusahaannya karena jumlah pembelian lebih besar dan berkesinambungan.

“Kalau dibiarkan begitu saja, daya tahan bakso hanya satu bulan. Tapi jika di dalam kulkas terutama freezer atau digoreng, bakso bisa tahan berbulan-bulan,” ucapnya.

Ia enggan menyampaikan berapa omzet yang diperolehnya. Namun, ia mengumpamakan, sang paman yang menggeluti bisnis ini dalam beberapa tahun bisa sukses dan memiliki kafe di wilayah elite Kota Bandung, Parijs van Java (PVJ).

Diakui Yanti, proses pembuatan basreng ini kurang steril karena berdekatan dengan tempat pembuangan sampah sementara (TPS), adonan bakso kerap dikerumuni lalat. Tapi ia meyakinkan, bakso yang dihasilkan tidak berbahaya karena sampai sekarang tidak ada konsumen yang mengeluh sakit ataupun keracunan makanan.

Basreng merupakan jajanan favorit di Bandung. Di setiap perumahan, sekolah, maupun kantin biasanya ada yang menjual basreng. Bahkan, beberapa merek ternama jajanan khas Bandung memproduksi basreng.

Basreng merupakan makanan olahan berbahan dasar bakso ikan. Setelah digoreng, basreng ditaburi bumbu cabek, garam, maupun keju, atau tetap original (tanpa bumbu) untuk kemudian dikemas dan siap dipasarkan.

Sumber: Kompas
Tags
bakso
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved