Mimbar Jumat

Isra' Mi'raj Mandat Kesempurnaan Spiritualitas

MOMENTUM Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina kemudian naik

Tayang:

Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) setebal 178 halaman tersebut setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku tersebut adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah.

Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi “puncak” perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani, sehingga Rasulullah SAW bersabda, yang artinya “shalat adalah Mi’rajnya seorang mukmin. Wallaahu a’lam!

Oleh: Misbahul Munir
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syari’ah FE dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved