Berita OKU Timur
Harga Gabah di OKU Timur Tembus Rp6.700, Petani Justru Takut Dihantui Hama dan Kekeringan
Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya mampu menghapus kegelisahan yang mereka rasakan di lapangan.
Penulis: Choirul Rahman | Editor: Sri Hidayatun
Ringkasan Berita:
- Harga gabah di OKU Timur mencapai Rp6.500–Rp6.700 per kilogram dan disambut positif oleh petani.
- Serangan hama tikus, sundep, dan pengerek batang menyebabkan hasil panen turun hingga 40–50 persen.
- Petani mulai khawatir menghadapi kemarau panjang yang mengancam ketersediaan air, terutama di sawah tadah hujan.
TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Kenaikan harga gabah yang mencapai Rp6.500 hingga Rp6.700 per kilogram membawa angin segar bagi petani di Kabupaten OKU Timur.
Namun di balik kegembiraan tersebut, para petani masih menghadapi sejumlah persoalan yang mengancam hasil panen, mulai dari serangan hama hingga kekhawatiran akan musim kemarau panjang.
Bagi sebagian petani, tingginya harga gabah saat ini menjadi kabar yang sudah lama dinantikan. Setelah beberapa musim menghadapi fluktuasi harga dan biaya produksi yang terus meningkat, harga jual gabah yang lebih baik memberikan harapan untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani.
Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya mampu menghapus kegelisahan yang mereka rasakan di lapangan.
Ratno, petani asal Desa Sukamulya, Kecamatan Semendawai Suku III, mengaku senang dengan harga gabah yang saat ini berada di kisaran Rp6.600 hingga Rp6.700 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut cukup menguntungkan dibandingkan beberapa musim sebelumnya.
Meski demikian, kebahagiaan itu dibayangi oleh serangan hama tikus dan sundep yang menyebabkan hasil produksi menurun drastis.
"Harga gabah sekarang memang mahal, petani senang. Tapi di sisi lain kami juga sedih karena banyak hama. Tikus dan sundep ini membuat hasil panen turun," ujarnya, saat dibincangiJurnalis Tribunsumsel.com dan Sripoku.com pada Senin (1/6/2026).
Lebih lanjut Ratno menjelaskan, dalam kondisi normal lahan yang ia kelola mampu menghasilkan sekitar 50 karung gabah. Namun ketika serangan hama terjadi, hasil panen bisa merosot hingga hanya sekitar 30 karung.
Baca juga: Gandeng BRIN, Pemkab OKU Timur Siapkan 11 Riset Strategis Lintas Sektor
"Kalau sudah terserang hama, penurunannya bisa sampai 40 sampai 50 persen. Jadi meskipun harga gabah naik, hasil yang kami dapat jauh berkurang," katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan Jodi Ariabima, petani di Kelurahan Bukitsari, Kecamatan Martapura. Ia mengakui tingginya harga gabah membuat petani lebih bersemangat menjalani musim tanam tahun ini.
Selain itu, ketersediaan pupuk dinilai lebih lancar dibandingkan sebelumnya.
Namun menurutnya, tantangan terbesar saat ini justru datang dari hama yang semakin sulit dikendalikan.
"Harga gabah bagus, pupuk juga aman. Tapi sekarang hama yang jadi masalah. Tikus, sundep, sampai pengerek batang banyak dan seolah sudah beradaptasi dengan berbagai macam obat," ujarnya.
Jodi mengatakan biaya pestisida memang sudah lama menjadi beban petani. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah efektivitasnya yang dinilai mulai berkurang.
| Jasa Penggilingan Daging di OKU Timur Kebanjiran Pelanggan Usai Lebaran, Ada yang Antre Sejak Subuh |
|
|---|
| Kemunculan Buaya Santai Berjemur di Tepi Sungai Komering OKU Timur Gegerkan Warga Martapura |
|
|---|
| Heboh Penampakan Seekor Buaya Terlihat Santai Berjemur di Sungai Komering, Jadi Tontonan Warga |
|
|---|
| Kisah Elsa Motornya Mogok Saat Idul Adha, Beruntung Dibantu Petugas Damkar OKU Timur |
|
|---|
| Harga Gabah Tembus Rp7.000 per Kilo, Petani OKU Timur Optimis Dukung Swasembada Pangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Petani-menanam-padi-di-lahan-persawahan-di-Kelurahan-Bukitsari.jpg)