Berita Pali

Manisnya Gula Aren Desa Modong PALI, Warisan Leluhur Jadi Penggerak Ekonomi Warga

Gula aren atau "gula abang" menjadi produk UMKM andalan Desa Modong, PALI, yang diwariskan secara turun-temurun.

Tayang:
Penulis: Mat Bodok | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Sripoku.com/Mat Bodok
GULA AREN - Camat Tanah Abang Dadang Afriandy didampingi Ketua TP PKK kecamatan Sri Utari Dadang, AMKP, memperlihatkan hasil perajin gula aren dari Desa Modong. 

Ringkasan Berita:
  • Gula aren atau "gula abang" menjadi produk UMKM andalan Desa Modong, PALI, yang diwariskan secara turun-temurun.
  • Sebagai penggerak ekonomi warga, pemerintah setempat mendorong peningkatan produksi melalui budidaya pohon nira.
  • Proses pembuatan secara tradisional memerlukan ketelitian dalam penyaringan, perebusan selama 3–5 jam.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Di balik batang pohon nira yang tumbuh subur di Desa Modong, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), tersimpan kisah manis yang sudah diwariskan turun-temurun.

Gula aren, atau warga lokal menyebutnya 'gula abang', bukan sekadar pemanis.  Itu adalah nadi ekonomi dan identitas budaya bagi petani asal Desa Modong asuhan Kepala Desa (Kades) Mustakim.

Camat Tanah Abang, Dadang Afriandy, mengatakan Desa Modong di wilayah Tanah Abang adalah penghasil gula aren yang sudah turun-temurun dari nenek moyang.

"Perajin gula aren dari Desa Modong ini sudah lama, ilmu menyadap pohon aren menghasilkan air nira, warganya dapat ilmu dari turun-temurun, leluhur semenjak nenek moyang mereka," ujarnya, Kamis (29/4/2026).

Gula aren ini menjadi rupiah penghasil pengrajin Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi andalan Desa Modong.

Namun sayangnya, anak muda lebih memilih kerja di kebun sawit atau merantau.

"Untuk hasilnya belum begitu memuaskan bagi petani aren, mengingat batang nira masih terbatas dan perlu penambahan lahan penanaman nira," kata Dadang Afriandy untuk meningkatkan penghasilan.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi dan UKM PALI, Raden Abdur Rohman, mencatat saat ini ada beberapa desa di Kecamatan Tanah Abang perajin aktif.

Untuk pendapatan dalam menyadap air nira masih terbatas, sehari dua kali dilakukan hanya menghasilkan 4-8 liter sebanyak puluhan batang aren.

"Tentunya menjadi perhatian pihak desa dan kecamatan agar bisa membudidayakan pohon aren agar bertambah hasil panennya," ujar Raden Abdur Rohman sembari penanaman bibit nira ini bisa dilakukan di pinggiran sungai sekaligus untuk penahan tanah abrasi.

Diungkapkan Raden Abdur Rohman, menyadap aren dianggap kerja berat dan hasil dalam sehari saja baru mencapai 4 sampai 8 liter per 10 batang. Dengan minimnya pohon aren, perlu perhatian desa.

"Untuk kemasan masih sederhana, dan penjualan masih sekitar desa dan kecamatan, belum tembus ritel modern. Untuk per cup, sedang dijual hanya Rp10 ribu per cup," ungkapnya untuk gula aren PALI sudah punya brand seperti yang ditampilkan pada kegiatan UMKM di Hari Ulang Tahun (HUT) PALI ke-13 Tahun.

Diungkapkan Raden Abdur Rohman, jika brand gula aren sudah bisa tembus ritel modern, gula aren tak cuma manis di mulut, tapi juga manis di dompet perajin gula aren.

Cara Pembuatan Gula Aren:

1.Penyaringan dan Pencampuran

Saring air nira terlebih dahulu menggunakan kain bersih agar kotoran dan serangga hilang. 

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved