Berita Ogan Komering Ilir

Harga Sawit di OKI Tembus Rp2.800 per Kg, Petani Kini Bisa Napas Lega

Perekonomian di tingkat petani kelapa sawit di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kembali menggeliat

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Moch Krisna
Tribunsumsel.com/Winando Davinchi
HARGA SAWIT - Harga tandan buah segar (TBS) ditingkat petani di Desa Muara Baru Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir sebagian besar meningkat. Saat ini pengepul membeli Rp 2.800 perkilogram. 

Ringkasan Berita:
  • Harga sawit di tingkat pengepul di Kayuagung, OKI, kini menembus Rp2.800 per kilogram.
  • Kenaikan harga ini membantu petani menutupi tingginya biaya operasional, khususnya pembelian pupuk dan pestisida.
  • Dinas Perkebunan Sumsel menetapkan harga tertinggi mencapai Rp3.933 per kilogram untuk sawit usia tanam 22 tahun.

 


TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG –
Perekonomian di tingkat petani kelapa sawit di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kembali menggeliat seiring merangkaknya harga Tandan Buah Segar (TBS) ke level yang lebih tinggi.

Di salah satu sentra perkebunan, seperti di Kecamatan Kayuagung, harga di tingkat pengepul telah menembus Rp2.800 per kilogram, menjadi pemicu optimisme baru bagi ribuan petani di wilayah tersebut.

Berdasarkan informasi dari salah satu pengepul sawit di Desa Muara Baru, harga pembelian TBS petani perlahan-lahan naik pascalebaran.

"Hari ini kami menerima sawit dari petani dengan harga Rp2.800 per kilonya. Harga ini naik bertahap dari awal bulan yang hanya Rp2.600 per kilo," ujar seorang pembeli sawit, Iskandar, saat ditemui pada Senin (22/9/2025) sore.

Menurutnya, harga beli TBS di tingkat pengepul bergantung pada ketetapan harga pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit. Perubahan harga dari pabrik yang terjadi beberapa hari sekali secara otomatis diikuti oleh para pengepul dan pembeli di lapangan.

"Kalau sekarang harga beli pabrik rata-rata di atas Rp3.500 per kilonya. Jadi keuntungan kami sekitar Rp300 per kilogram yang telah dipotong biaya operasional dan pengangkutan."

"Makanya setiap harinya harga bisa berubah-ubah sesuai ketepatan harga jual yang dikeluarkan pabrik," ujarnya.

Diterangkan olehnya, lapaknya rata-rata membeli sawit dari petani sekitar 10 ton atau satu mobil truk, yang bergantung dari hasil panen kebun sawit masyarakat setempat.

Selain itu, ia bersyukur meskipun harga berfluktuasi, usaha yang dijalankannya masih memberikan keuntungan yang lumayan.

"Alhamdulillah, untungnya lumayan. Kami berharap harga terus-menerus melonjak agar kesejahteraan petani juga menjadi lebih baik," tuturnya.

Kenaikan harga ini disambut penuh syukur oleh para petani. Sutrisno, seorang petani sawit, mengaku terbantu dengan harga saat ini. Dengan harga tersebut, ia dapat menutupi biaya operasional kebun yang semakin mahal, terutama untuk pembelian pupuk dan pestisida.

"Alhamdulillah, harga sangat membantu kami. Biaya pupuk dan perawatan kebun terus naik, jadi dengan harga segini kami bisa sedikit bernapas lega. Semoga saja harganya bisa terus stabil atau bahkan naik lagi," ujar Sutrisno.

Meskipun demikian, harga di tingkat petani bisa bervariasi di beberapa wilayah lain di OKI. Faktor-faktor seperti kualitas buah, akses jalan menuju lokasi perkebunan, serta jarak ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) memengaruhi harga akhir yang diterima petani.

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved