Mata Lokal Desa

Lewat Grebeg Sadranan, Warga Trikarya OKU Timur Sumsel Rawat Tradisi Lelulur dengan Kebersamaan

Masyarakat Desa Trikarya, Kabupaten OKU Timur, Sumsel setia merawat warisan budaya leluhur salah satunya melalui tradisi Grebeg Sadranan.

Dokumentasi/Warga
TRADISI GREBEK SANDRANAN -- Warga Desa Trikarya, Kecamatan Belitang III, Kabupaten OKU Timur, mengikuti prosesi Grebeg Sadranan yang dirangkai dengan doa bersama untuk para leluhur, Selasa (3/2/2026). Tradisi adat Jawa tahunan ini menjadi simbol pelestarian budaya sekaligus penguatan kebersamaan dan spiritualitas masyarakat desa. 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah Desa Trikarya menggelar Grebeg Sadranan sebagai upaya melestarikan budaya Jawa dan mempererat silaturahmi warga.
  • Tradisi ini diisi doa bersama dan prosesi adat yang sarat nilai spiritual serta refleksi diri menjelang Ramadhan 1447 Hijriah.
  • Warga menyambut antusias kegiatan tersebut sebagai pengingat pentingnya kebersamaan, harmoni sosial, dan penghormatan kepada leluhur.

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA -- Masyarakat Desa Trikarya, Kecamatan Belitang III, Kabupaten OKU Timur, Sumsel setia merawat warisan budaya leluhur salah satunya melalui tradisi Grebeg Sadranan.

Grebeg Sadranan adalah tradisi tahunan adat Jawa yang dilaksanakan pada bulan Sya'ban (Ruwah) menjelang Ramadhan.

Tradisi ini melibatkan arak-arakan gunungan hasil bumi, kirab budaya, ziarah makam, dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. 

Melalui tradisi Grebeg Sadranan, warga tak hanya menjaga adat Jawa, tetapi juga meneguhkan nilai kebersamaan dan spiritualitas yang menjadi fondasi kehidupan desa.

Tradisi tahunan ini digelar pada Selasa 3 Februari 2026 terlihat sejak pagi, warga dari berbagai kalangan berdatangan untuk mengikuti rangkaian doa bersama bagi arwah para leluhur, dilanjutkan prosesi adat yang berlangsung khidmat dan tertib. 

Suasana hening dan penuh kekhusyukan menyelimuti jalannya kegiatan, seolah mengajak setiap orang untuk sejenak berhenti dan merenung.

Bagi masyarakat Trikarya, Grebeg Sadranan bukan sekadar agenda seremonial.

Ia menjadi ruang perjumpaan antara generasi hari ini dengan jejak para pendahulu, antara kehidupan yang dijalani sekarang dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan sejak lama.

Kepala Desa Trikarya, Darmoko, S.E., menegaskan bahwa Grebeg Sadranan merupakan bagian penting dari upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan silaturahmi warga desa.

“Grebeg Sadranan ini menjadi sarana silaturahmi warga sekaligus doa bersama untuk para leluhur. Kami ingin budaya warisan nenek moyang tetap lestari dan tidak hilang oleh zaman,” ujar Darmoko, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, tradisi ini mengandung nilai sosial yang kuat. Di dalamnya tumbuh rasa saling menghormati, gotong royong, dan kebersamaan nilai-nilai yang menjadi penopang keharmonisan masyarakat desa.

Senada dengan itu, Ketua Panitia Pelaksana Darno, yang juga Kepala Dusun III, menyebut Grebeg Sadranan sebagai momentum refleksi bagi masyarakat. Tradisi ini mengajarkan kesadaran akan hakikat hidup dan pentingnya memperbaiki diri.

“Melalui Grebeg Sadranan, kami mengajak masyarakat untuk merenung dan mengingat bahwa hidup ini sementara. Yang hidup pasti akan mati, sehingga kita harus terus memperbaiki diri,” ungkap Darno.

Ia menambahkan, Grebeg Sadranan tidak hanya bermakna budaya, tetapi juga menjadi sarana pembersihan batin.

Nilai spiritual yang terkandung di dalamnya diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih baik dan hubungan sosial yang lebih harmonis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved