PPG

4 Contoh Studi Kasus PPG 2025 SD, 350 Kata, Masalah Media, LKPD, Strategi Pembelajaran dan Penilaian

- Artikel berikut memuat 4 Contoh Studi Kasus PPG 2025 SD, 350 Kata, Masalah Media, LKPD, Strategi Pembelajaran dan Penilaian.

Tayang:
Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
GRAFIS TRIBUN SUMSEL/VANDA
PPG 2025 - Contoh Studi Kasus PPG 2025 SD. Studi Kasus adalah salah satu materi diujikan UTBK UKPPPG bagi peserta PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 2 dijadwalkan 27 September hingga 1 Oktober. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Artikel berikut memuat 4 Contoh Studi Kasus PPG 2025 SD, 350 Kata, Masalah Media, LKPD, Strategi Pembelajaran dan Penilaian.

Studi Kasus adalah salah satu materi diujikan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) Uji Kompetensi Peserta Pendidikan Profesi Guru (UKPPPG) bagi peserta Bapak/Ibu Guru peserta PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 2 dijadwalkan 27 September hingga 1 Oktober.

Jawaban Studi Kasus ini diketik dengan di laman aplikasi UTBK dengan ketentuan  minimal 350 kata dan maksimal 600 kata. 

Ada empat permasalahan yang bisa dipilih guru sebagai  berdasarkan pengalaman mengajarnya yakni Media Pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), Strategi Pembelajaran dan Penilaian. 

Berikut ini 4 Contoh Studi Kasus PPG 2025 SD, 350 Kata, Masalah Media, LKPD, Strategi Pembelajaran dan Penilaian yang bisa dijadikan referensi diolah dari laman scribd ilyassuryana01 diakses Jumat, 26 September 2025. 

___________

CONTOH STUDI KASUS PPG 2025 SD 

Masalah 1: Media Pembelajaran

1. Mengidentifikasi Masalah yang Pernah Dihadapi 

Sebagai guru SD, saya pemah mengalami kendala dalam penggunaan media pembelajaran. Saat itu saya mengajar di kelas rendah, tepatnya kelas 2 SD, dengan materi tematik.

Saya merasa pembelajaran menjadi kurang menarik karena saya terlalu sering menggunakan metode ceramah tanpa dukungan media konkret.

Media yang saya gunakan hanya sebatas gambar tempel atau buku paket yang monoton. Hal ini membuat siswa kurang tertarik, mudah bosan, dan tidak antusias mengikuti pembelajaran.

Beberapa siswa terlihat kurang memahami materi karena tidak ada alat bantu visual yang mendukung penjelasan saya.

Masalah ini semakin terlihat ketika saya mengajar materi tentang lingkungan sekitar, di mana anak-anak seharusnya lebih mudah memahami melalui media nyata atau konkret.

2. Upaya Mengatasi Masalah yang Dihadapi

Setelah melakukan refleksi, saya sadar pentingnya penggunaan media yang menarik dan kontekstual dalam pembelajaran anak SD, terutama di kelas rendah.

Saya mulai mencari referensi melalui internet, mengikuti pelatihan pembuatan media pembelajaran sederhana, dan berdiskusi dengan guru-guru lain.

Saya memanfaatkan barang bekas dan benda di sekitar sekolah sebagai media. Misalnya, untuk materi lingkungan, saya membuat miniatur rumah, pohon, jalan, dan pasar dari kardus dan plastik bekas.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved