Berita Palembang
Pagar Alam, Empat Lawang dan OKU Selatan Wilayah di Sumsel Paling Berpotensi Banjir dan Longsor
Pagar Alam, Empat Lawang, dan OKU Selatan merupakan wilayah di Sumsel yang paling berpotensi mengalami bencana banjir dan tanah longsor.
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Ringkasan Berita:
- Pagar Alam, Empat Lawang, dan OKU Selatan merupakan wilayah di Sumsel yang paling berpotensi banjir dan longsor
- Provinsi Sumsel tercatat memiliki kawasan hutan seluas 56,6 persen dari total wilayah
- Namun, berdasarkan analisis tutupan hutan, Dinas Kehutanan menemukan adanya titik-titik deforestasi yang perlu mendapatkan perhatian khusus
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Daerah hulu seperti Pagar Alam, Empat Lawang, dan OKU Selatan merupakan wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel) yang paling berpotensi mengalami bencana banjir dan tanah longsor.
Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Provinsi Sumsel tercatat memiliki kawasan hutan dan perairan yang sangat luas, mencapai 4.911.918 hektare atau 56,6 persen dari total wilayah provinsi.
Kepala Bidang KSDAE dan Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Sumsel, Syafrul Yunardi mengatakan, kini kawasan perairan seperti mangrove di pesisir timur masuk dalam penghitungan kawasan hutan.
"Berdasarkan data Sumsel dalam Angka 2025, total kawasan hutan dan perairan di Sumsel mencapai 4.911.918 hektare atau 56,6 persen dari total wilayah Provinsi Sumsel," kata Syafrul saat diwawancarai di Kantor Kehutanan Provinsi Sumsel, Senin (1/12/2025).
Menurut Syafrul, secara umum kondisi geografis Sumsel masih dinilai baik karena luas kawasan hutan jauh melampaui batas minimal 30 persen yang ditetapkan regulasi.
Baca juga: LIPSUS : Sumsel Siapkan Status Siaga Darurat, Warga Pinggir Sungai Mulai Amankan Dokumen Penting
Namun demikian, wilayah ini tetap masuk kategori rawan bencana, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau atau fenomena el Nino.
“Sumsel memiliki lahan gambut seluas 2,09 juta hektare, atau 24,07 persen dari ekosistem gambut. Sebagian besar gambut ini telah dibuka untuk berbagai keperluan, baik kehutanan, perumahan, maupun perkebunan. Data tersebut mengacu pada RPPEG Sumatera Selatan 2024, dokumen resmi pengelolaan ekosistem gambut," jelas Syafrul.
Ia menekankan bahwa ekosistem gambut harus dilihat sebagai kesatuan hidrologis gambut (KHG), satu kubah gambut bisa mencakup kawasan hutan dan lahan nonhutan (APL), termasuk perkebunan dan area berizin maupun tidak berizin.
Syafrul menjelaskan bahwa daerah hulu seperti Pagar Alam, Empat Lawang, dan OKU Selatan merupakan wilayah yang paling berpotensi mengalami bencana banjir dan tanah longsor.
Penurunan kualitas tutupan hutan di wilayah-wilayah tersebut dapat memperparah risiko.
“Kalau hutannya masih bagus, air hujan akan tertahan oleh tajuk dan akar pohon. Sehingga alirannya ke sungai stabil dan tidak menimbulkan banjir bandang,” ungkapnya.
Sebaliknya, bila hutan rusak, air sungai cenderung berwarna coklat tua, tanda terbawanya material tanah dari hulu.
Namun, berdasarkan analisis tutupan hutan, Dinas Kehutanan menemukan adanya titik-titik deforestasi yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
| Tunggak Pajak Rp747 Miliar, Rekening 147 Wajib Pajak di Sumsel-Babel Resmi Diblokir |
|
|---|
| Update Cuaca Sumsel Tanggal 13 Sampai 14 Mei 2026, Potensi Hujan Lebat dan Pasang Sungai Musi |
|
|---|
| Update Harga Karet di Sumsel 12 Mei 2026, Bertahan di Level Rp 38 Ribu per Kilogram |
|
|---|
| Sempat Buang Sabu ke Tanah, Pengedar Narkoba di Palembang Ditangkap Polisi |
|
|---|
| Jadi Agenda Rutin Mingguan, CFD di Palembang Bakal Dilaunching Herman Deru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Prima-Salam-Optimis-Palembang-Bebas-Banjir-2028.jpg)