Berita Palembang

Dolar Tembus Rp18.000, Pengamat Ekonomi Sumsel Ingatkan Ancaman Daya Beli Turun dan PHK

Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18.000 memicu kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan.

Tayang:
GRAFIS TRIBUN SUMSEL
WASPADA NILAI RUPIAH - Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18.000 memicu kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan. 

Ringkasan Berita:
  • Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang resmi menembus angka Rp18.000 memicu alarm kewaspadaan tinggi terhadap stabilitas perekonomian nasional
  • Pengamat Ekonomi UMP, Prof. Dr. Sri Rahayu, mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang agresif berpotensi memicu inflasi, memangkas kapasitas produksi industri, hingga memicu gelombang PHK
  • Guna meredam tekanan global, pemerintah bersama Bank Indonesia didesak segera mengintervensi pasar melalui kebijakan fiskal dan moneter yang cepat.

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18.000 memicu kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan.

Pengamat ekonomi Sumatera Selatan dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Prof. Dr. Sri Rahayu, mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, mengurangi produksi industri, hingga memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila tidak segera diantisipasi melalui kebijakan fiskal dan moneter yang tepat.

"Kalau dolar terus naik dan kita tidak siap, ekonomi bisa mengalami tekanan yang berat. Daya beli masyarakat akan turun, kemudian produksi ikut berkurang. Ketika produksi berkurang, dampaknya adalah pengurangan tenaga kerja dan meningkatnya pengangguran. Ini yang tidak kita harapkan," kata Prof. Sri Rahayu, Sabtu (6/6/2026).

Ia menilai berbagai kegiatan yang mampu menggerakkan transaksi ekonomi, termasuk festival ekonomi dan pemberdayaan UMKM yang didorong oleh Bank Indonesia, menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga perputaran ekonomi di tengah tekanan global.

"Melalui kegiatan-kegiatan yang menggerakkan ekonomi masyarakat, khususnya UMKM, akan tercipta aktivitas ekonomi yang dapat membantu menjaga stabilitas perekonomian," ujarnya.

Prof. Sri Rahayu juga meminta pemerintah segera memperkuat kebijakan fiskal dan moneter guna mengantisipasi dampak pelemahan rupiah. Selain itu, pemerintah perlu memperluas program yang mendukung UMKM serta mendorong investasi agar aktivitas ekonomi tetap tumbuh.

"Yang pertama tentu melalui kebijakan pemerintah, misalnya memperbanyak kegiatan yang mendukung UMKM dan menciptakan iklim investasi yang baik. Dari sisi fiskal dan moneter, pemerintah perlu bergerak cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi," katanya.

Menanggapi berbagai candaan atau jokes yang beredar di masyarakat terkait potensi dolar menuju Rp19.000, yang disebut lebih dahulu tercapai dibanding terciptanya 19 ribu lapangan kerja, Prof. Sri Rahayu mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada upaya produktif dibanding sekadar memperdebatkan isu tersebut.

"Bagaimana agar itu tidak menjadi kenyataan. Mari bersama-sama melakukan kegiatan yang memiliki nilai ekonomi. Sekecil apa pun usaha yang dilakukan akan membantu perekonomian. Berhenti bermain jokes, mari berusaha dan bertransformasi," ujarnya.

Dalam jangka pendek, ia memperkirakan sektor yang paling terdampak adalah industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan nilai tukar dolar akan membuat biaya produksi meningkat sehingga dapat mengganggu keberlangsungan usaha.

"Industri yang menggunakan bahan baku impor akan sangat terdampak karena biaya produksinya mengikuti kurs dolar. Karena itu, penggunaan produk lokal perlu terus ditingkatkan," katanya.

Terkait kondisi ekspor yang saat ini masih menghadapi tantangan, ia mengakui pelemahan rupiah dapat menambah tekanan. Namun demikian, ia mengajak seluruh pihak tetap optimistis dalam membangun ekonomi.

"Saya yakin ada dampaknya terhadap ekspor, tetapi kita harus tetap optimistis. Optimisme akan memengaruhi kinerja dan semangat kita dalam membangun ekonomi," katanya.

Ia juga mendorong masyarakat, pelaku usaha, hingga mahasiswa untuk tidak hanya bergantung pada lapangan pekerjaan yang tersedia, tetapi mulai menciptakan peluang kerja baru.

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved