Kebakaran di Palembang

Detik-detik Korban Kebakaran di 1 Ilir Palembang Selamatkan Diri, Bantah Api dari Tabung Gas

Lina Febrina, anak salah satu korban, membantah kabar bahwa api dipicu oleh kompor gas yang ditinggal saat memasak, melainkan korsleting listrik.

Tayang:
Penulis: Angga Azka | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Sripoku.com/Angga Azka
KORBAN KEBAKARAN -- Lina Febrina, salah satu korban kebakaran di Jalan Sultan Agung, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang membantah dugaan api berasal dari tabung gas, Senin (11/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Lina Febrina, anak salah satu korban, membantah kabar bahwa api dipicu oleh kompor gas yang ditinggal saat memasak, melainkan korsleting listrik.
  • Saat kejadian, Lina menyelamatkan diri dan neneknya di tengah kondisi angin kencang serta rumah kayu yang mudah terbakar.
  • Lina sangat menyayangkan jika banyak berita yang beredar menyebut kebakaran ini berasal dari tabung gas. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Lina Febrina, salah satu korban kebakaran di Jalan Sultan Agung, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, pada Minggu (10/5/2026), malam, mengungkap detik-detik dirinya dan keluarga menyelamatkan diri dari kobaran api. 

Kata Lina, api memang pertama kali muncul dari dari rumahnya.

Namun ia membantah kabar beredar yang menyebut kebakaran terjadi karena aktivitas masak yang ditinggal, melainkan karena korsleting listrik di arah dapur.

"Kamar kami itu bersebelahan dengan kompor gas. Kalau memang (kebakaran) karena gas, kan kami dahulu yang terdampak," ujar Lina saat dijumpai di lokasi kebakaran, Senin (11/5/2026).

Diungkapkan Lina, saat itu dirinya tengah tertidur dan mendengar teriakan ada api.

Sontak teriakan itu membuatnya terbangun dan bergegas menyelamatkan diri keluar dari rumah.

"Saat kejadian itu saya lihat di bagian dapur itu masih utuh dan ada nenek yang guling di sana. Memang ada api, tapi di bagian masuk pintu belakang," ungkapnya.

Baca juga: Kebakaran Hebat di 1 Ilir Palembang Hanguskan 9 Rumah, 5 Di Antaranya Hanya Tersisa Puing

Saat itu, ia hanya berpikir tentang keselamatan keluarganya yang telah keluar semua dari kobaran api yang terus membesar.

"Saat itu tatapan saya kosong, Kak. Tidak menyangka bakal seperti ini," ujarnya.

Saat kejadian, ia masih bisa keluar dengan selamat bersama dengan neneknya yang digendong oleh tetangga.

"Saat itu api sudah membesar. Kami panik, tapi kami harus tenang untuk keluarga," ujarnya.

Lanjut dikatakan, dengan alat seadanya warga berbondong-bondong untuk memadamkan api agar tidak membesar.

Sayangnya, saat itu air Sungai Musi tengah surut dan sulit bagi warga untuk membantu.

Selain jalan yang setapak, angin yang berembus kencang membuat api mudah menjalar.

"Kalau apinya dari kompor gas, kan tidak mungkin kami masih bisa keluar dengan selamat. Pastinya kami dahulu yang kena," ujarnya.

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved