Berita Palembang
Bikin Gerah Siang-Malam, Ini Penjelasan BMKG Terkait Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Sumsel
Kondisi panas terik yang terasa saat ini dikarenakan sudah masuk awal musim kemarau. Hal ini diungkapkan BMKG
Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Moch Krisna
Ringkasan Berita:
- Wilayah Sumsel resmi memasuki awal musim kemarau sejak awal Juni, yang ditandai dengan suhu udara terik berkisar 33 hingga 35 derajat celsius.
- Minimnya curah hujan dan tutupan awan dipengaruhi oleh aktifnya pola angin monsun Australia, fenomena El Nino, serta adanya Siklon Gaemi.
- BMKG memprediksi musim kemarau akan berlangsung lebih panjang hingga Oktober, dengan puncak pada Juli–Agustus, sehingga memicu risiko tinggi karhutla.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Kondisi panas terik yang terasa saat ini dikarenakan sudah masuk awal musim kemarau. Hal ini diungkapkan BMKG Sumsel SMB II Palembang.
Menurut Kasi Observasi, Data, dan Informasi BMKG Sumsel SMB II Palembang Shinta Mediany, awal Juni ini wilayah Sumsel sudah masuk awal musim kemarau. Salah satu faktor yang menandai masuknya awal musim kemarau adalah suhu udara yang semakin terik karena kurangnya curah hujan yang turun.
"Kondisi beberapa hari ini memang sudah terasa terik, karena memang sudah mulai masuk awal musim kemarau. Teriknya suhu yang dirasakan saat ini karena kondisi atmosfer yang tidak mendukung kelembapan udara. Sehingga memang, suhu udara akan terasa terik di siang hari termasuk juga pada malam hari," katanya, Senin (1/6/2026).
Selama musim kemarau yang akan terasa lebih kering dari biasanya, bukan hanya dipengaruhi kurangnya curah hujan dan kelembapan udara, tetapi potensi pertumbuhan awan juga sangat minim. Faktor lain yang membuat kondisi suhu akan terasa terik karena pola angin timuran atau monsun Australia aktif yang berdampak pada massa udara yang minim.
"Suhu udara yang ada di Sumsel maksimum 33 sampai 35 derajat celsius pada siang hari. Makanya, siang hari akan terasa sangat panas, karena dipengaruhi beberapa faktor tadi," jelasnya.
Turunnya hujan yang mulai semakin sedikit dipengaruhi El Nino yang sudah mulai aktif dari lemah menuju sedang. Ditambah lagi dengan adanya Siklon Gaemi, yang juga berpengaruh terhadap suhu udara dan pola angin yang ada di wilayah Sumsel.
Faktor-faktor inilah yang juga membuat minimnya tutupan awan, sehingga membuat atmosfer menjadi kering dan terasa terik pada siang hari hingga malam hari. BMKG Sumsel memprediksi kemarau terjadi sedikit lebih panjang dari biasanya.
Kemarau bisa terjadi hingga bulan Oktober karena adanya pengaruh El Nino yang membuat curah hujan akan di bawah normal atau berkurangnya curah hujan yang turun.
"Diprediksi musim kemarau akan panjang. Puncak musim kemarau terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. Di bulan September akan tetap terjadi kemarau karena pengaruh El Nino. Pengaruhnya selain minimnya curah hujan dan membuat suhu udara terasa terik, pastinya juga bisa menyebabkan terjadinya karhutla yang sangat tinggi," pungkasnya.
| Kemendikdasmen Majukan Jadwal TKA SMA 2026, Catat Tanggal Pendaftaran dan Ujian Termasuk di Sumsel |
|
|---|
| Wanita Paruh Baya di Palembang Babak Belur Dianiaya Pacar, Berawal Dituduh Jalan dengan Pria Lain |
|
|---|
| Masuki Musim Kemarau, Dinkes Sumsel Imbau Warga Waspada DBD hingga ISPA, Gencarkan PHBS |
|
|---|
| Sempat Kejar-kejaran, Pencuri HP di Palembang Ditangkap Korbannya Saat Naik Ojek, Dibawa ke Polisi |
|
|---|
| Kabar Gembira, Gaji ke-13 ASN dan PPPK Pemprov Sumsel Cair Awal Juni 2026, ini Jadwalnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Hujan-Saat-Masih-Musim-Kemarau-Disebut-BMKG-Sumsel-Karena-Pengaruh-Gelombang-Atmosfer-Rossby.jpg)