Bus ALS Kecelakaan di Muratara

Update Hari Ke-3 Identifikasi Korban Bus ALS, Tim DVI Polda Sumsel Kirim Sampel DNA

dr Budi mengatakan, beberapa jenazah belum dapat dipastikan identitasnya karena kondisi tubuh korban mengalami kerusakan berat akibat terbakar.

Tayang:
Penulis: andyka wijaya | Editor: Kharisma Tri Saputra
Sripoku.com/andyka wijaya
TIM DVI RS BHAYANGKARA MOH HASAN -- Proses identifikasi 17 korban kecelakaan maut di Karang Jaya Muratara terus dilakukan TIM DVI RS Bhayangkara Moh Hasan, Polda Sumsel, Sabtu (9/5/2026), sore 
Ringkasan Berita:
  • Memasuki hari ketiga, Tim DVI RS Bhayangkara Palembang masih mengalami kendala besar dalam mengidentifikasi 17 korban tewas kecelakaan bus ALS karena kondisi jenazah yang rusak berat akibat terbakar.
  • Meskipun pihak keluarga telah memberikan data properti seperti tato burung dan kalung silver, tim medis belum bisa menyimpulkan kecocokan yang kuat sehingga identifikasi kini sepenuhnya bergantung pada hasil tes DNA.

 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Proses identifikasi 17 korban kecelakaan maut di Karang Jaya, Muratara terus dilakukan Tim DVI RS Bhayangkara Moh Hasan Polda Sumsel, Sabtu (9/5/2026) sore.

Hal ini diungkapkan Karumkit RS Bhayangkara Moh Hasan, Kombes Pol dr Budi Susanto.

“Benar, hari ini merupakan hari ketiga. Ada sejumlah kendala dalam mencocokkan data ante-mortem (AM) dari keluarga dengan data post-mortem (PM) yang ditemukan pada jenazah korban,” kata dr Budi saat memberikan rilis hari ketiga.

dr Budi mengatakan, beberapa jenazah belum dapat dipastikan identitasnya karena kondisi tubuh korban mengalami kerusakan berat akibat terbakar.

“Hari ketiga operasi DVI. Kami melaporkan temuan pada jenazah, baik dari kode post-mortem maupun hasil input laporan keluarga ante-mortem,” katanya.

Salah satu yang menjadi perhatian, lanjut dr Budi, yakni pencocokan jenazah berkode PM 013 berjenis kelamin laki-laki dengan data AM 009 yang dilaporkan pihak keluarga.

“Tim rekonsiliasi mencocokkan temuan data jenazah PM 013 dengan data AM 009 berdasarkan properti berupa kalung silver yang masih melekat pada leher jenazah,” katanya.

Selain kalung, sambungnya, keluarga juga menyebut korban memiliki tato bergambar burung di bagian punggung.

Namun, kondisi jenazah yang hangus membuat proses identifikasi visual tidak memungkinkan dilakukan.

“Setelah rapat rekonsiliasi, data tersebut tidak cukup kuat. Kondisi jenazah sudah hangus, gosong, dan kulitnya terkelupas sehingga secara visual tidak dapat kita identifikasi berdasarkan keterangan keluarga,” jelasnya.

Tim DVI juga mengungkapkan pencocokan terhadap jenazah PM 006 dengan data AM 015 atas nama Sukardi bin Parmin asal Jawa Tengah.

“Temuan yang kami dapatkan berupa celana boxer warna hijau yang melekat di tungkai bawah jenazah,” katanya.

Namun, hasil pencocokan kembali tidak menunjukkan kecocokan yang identik dengan keterangan keluarga.

“Dari keluarga disampaikan korban menggunakan celana jeans warna hitam. Sementara pada temuan post-mortem yang kami dapatkan berupa celana panjang dengan banyak kantong seperti celana kargo berwarna gelap,” ungkapnya.

Menurut dr Budi, warna asli pakaian juga sulit dipastikan lantaran seluruh bagian sudah terbakar.

“Kami tidak bisa memastikan warnanya karena memang sudah gosong. Tapi jelas itu bukan celana jeans polos. Jadi kedua data tadi tidak bisa kami simpulkan cocok antara data ante-mortem dan post-mortem,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan karena belum ditemukan kecocokan yang kuat, tim memastikan proses identifikasi kini sepenuhnya mengandalkan pemeriksaan DNA di Laboratorium DNA Pusdokkes Mabes Polri.

“Kesimpulan sementara, jenazah belum bisa dikatakan teridentifikasi. Kami hanya mengandalkan hasil pemeriksaan DNA yang sudah diambil sejak awal,” tegasnya kembali.

Terpisah, dr Budi mengatakan, pada hari ini Tim DVI Polda Sumsel kembali mengirim tiga sampel DNA melalui jalur udara ke Laboratorium DNA Pusdokkes Mabes Polri.

“Tiga sampel yang dikirim terdiri dari dua sampel post-mortem berkode 008B dan 008C yang kemarin ditemukan lengket dalam satu kantong mayat dan diduga salah satunya bayi. Kemudian satu sampel ante-mortem berkode 0010 untuk pencocokan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, dr Budi juga menyampaikan Tim DVI melakukan koordinasi dengan sejumlah Polda di luar Sumsel untuk pengambilan sampel keluarga korban.

“Polda Aceh mengambil satu sampel kode AM 0013, Polda Sumut tiga sampel kode AM 0012, AM 0015, dan AM 0016, sementara Polda Jateng empat sampel kode AM 007, 008, 009, dan 014,” bebernya.

Seluruh sampel tersebut akan segera dikirim ke Mabes Polri guna mempercepat proses identifikasi.

“Kami pastikan pengiriman sampel segera sampai ke laboratorium karena hasil DNA paling cepat bisa keluar lima hari setelah pemeriksaan,” tutupnya. (Diw)
 
 
 
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved