Berita Nasional
Profil Dino Patti Djalal Eks Wamenlu, Kritik dan Beri 5 Saran ke Prabowo Soal Kunker ke Luar Negeri
Lahir di Belgrade, Yugoslavia pada 10 September 1965, darah diplomat tampaknya sudah mengalir deras dalam diri Dino Patti Djalal. Menilik data dari
Penulis: Putri Kusuma Rinjani | Editor: Weni Wahyuny
Ringkasan Berita:
- Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal soroti intensitas lawatan internasional Presiden Prabowo Subianto yang dinilai paling sering ke luar negeri, lalu beri 5 saran terbuka.
- Dino merupakan tokoh diplomasi 40 tahun, anak diplomat senior Hasyim Djalal, peraih Doktor LSE Inggris, eks Jubir Referendum Timor Timur, Dubes RI untuk AS, hingga Wamenlu era SBY.
- Meski kritis, Dino sempat bertemu Prabowo di Istana guna bahas situasi global dan tegaskan belum ada alternatif konkret untuk hentikan konflik Gaza.
TRIBUNSUMSEL.COM -- Nama Dino Patti Djalal mantan Wakil Menteri Luar Negeri mendadak jadi sorotan tajam dari publik usai melayangkan lima saran terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto terkait intensitas kunjungan kerja sang Kepala Negara ke luar negeri.
Menurut pengamatan Dino, Prabowo tercatat sebagai Presiden Indonesia yang paling sering melakukan lawatan internasional.
Pernyataan kritis ini pun langsung memantik rasa penasaran masyarakat luas.
Lantas, siapa sebenarnya sosok Dino Patti Djalal ini yang begitu lantang memberikan masukan kepada orang nomor satu di Indonesia serta lingkaran terdekat Prabowo lainnya?
Profil Dino Patti Djalal
Lahir di Belgrade, Yugoslavia pada 10 September 1965, darah diplomat tampaknya sudah mengalir deras dalam diri Dino Patti Djalal.
Menilik data dari dinopattidjalal.com, masa kecil hingga remaja Dino dihabiskan dengan berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, mengikuti penugasan sang ayah, Hasyim Djalal, yang juga merupakan seorang diplomat andalan Indonesia asal Ampek Angkek, Agam, Sumatra Barat. Ibunya bernama Jurni, sebagaimana dilansir oleh stekom.ac.id dan Wikipedia.
Akibat mobilitas yang tinggi tersebut, Dino mencicipi atmosfer berbagai kota besar dunia, mulai dari Jakarta, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa, hingga Vancouver.
Untuk urusan akademis, masa sekolah dasar dan menengah pertamanya ia selesaikan di tanah air, tepatnya di SD Muhammadiyah dan SMP Al-Azhar. Memasuki jenjang SMA, ia bertolak ke McLean, Virginia, Amerika Serikat.
Pendidikan tingginya fokus pada ranah geopolitik, gelar Bachelor diraih dari Universitas Carleton di Ottawa, disusul gelar Master dari Universitas Simon Fraser di Vancouver.
Puncak pencapaian akademisnya ditandai dengan raihan gelar Doktor di bidang Hubungan Internasional dari kampus bergengsi, London School of Economics and Political Science di Inggris.
Rekam Jejak Karier di Dunia Diplomasi
Dedikasi Dino di dunia diplomasi internasional telah membentang sepanjang empat dekade.
Langkah awalnya dimulai pada tahun 1987 kala ia resmi memperkuat barisan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Sejak saat itu, ia dipercaya mengemban berbagai posisi strategis di berbagai penjuru dunia serta di lingkaran utama pemerintahan.
Berikut adalah linimasa perjalanan karier dan pencapaian penting seorang Dino Patti Djalal.
- 1987: Mengawali pengabdian di Kementerian Luar Negeri RI, dengan penugasan operasional di London, Dili, serta Washington DC.
- 1999: Mengemban tugas krusial sebagai juru bicara pemerintah saat pelaksanaan jajak pendapat (referendum) PBB di Timor Timur.
- 2004: Dipercaya menduduki posisi Direktur Urusan Amerika Utara.
- 2004–2010: Menjadi bagian dari lingkaran dalam Istana sebagai Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk Urusan Internasional.
- 2010: Dianugerahi penghargaan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama.
- 2010–2013: Mengemban amanah sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Amerika Serikat.
- 2013: Sukses menyabet penghargaan prestisius “Marketeer of the Year”.
- 2014: Mengikuti kontestasi konvensi calon presiden yang digelar oleh Partai Demokrat dengan status sebagai kandidat non-kader (independen). Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana.
- Juni 2014–Pertengahan 2015: Mencapai puncak karier birokrasinya saat diangkat oleh Presiden SBY menjadi Wakil Menteri Luar Negeri.
- 2015: Menginisiasi dan mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah lembaga pemikir kebijakan luar negeri.
- 2017: Mendapatkan apresiasi internasional berupa Intercultural Achievement Award for Innovation dari pemerintah Austria.
- 2018: Dipercaya memimpin organisasi profesi sebagai Ketua Umum Asosiasi Dosen Indonesia (ADI).
- 2020: Merambah dunia penyiaran digital dengan memandu program talk show di Mola TV, di mana ia berkesempatan mewawancarai deretan figur global seperti Robert De Niro, Spike Lee, John Travolta, Sylvester Stallone, Richard Gere, Mel Gibson, Kurt Russell, Susan Sarandon, Ron Howard, Francis Ford Coppola, hingga Dana White.
| Tinggal Tunggu Restu Presiden Prabowo, Program Makan Bergizi Gratis Siap Melebarkan Sayap ke Jeddah |
|
|---|
| Andreas PDIP Kritik Kebijakan Top-Down, Singgung Koperasi Desa Merah Putih hingga Pendidikan |
|
|---|
| Diseret ke Polda Metro Jaya Terkait Film Pesta Babi, Dandhy Laksono Buka Suara Laporan Mama Yasinta |
|
|---|
| Berstatus Tahanan Rumah, Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim Jalani Libur Iduladha Bersama Keluarga |
|
|---|
| Merasa Dieksploitasi dalam Film Pesta Babi, Mama Yasinta Desak Penayangan Dihentikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/dino-patti-II.jpg)