Hari Buku Nasional
Refleksi Hari Buku Nasional 2026: Indonesia Aktif Secara Digital, Pasif dalam Literasi Mendalam
Indonesia dihadapkan pada warganya yang bisa membaca tapi enggan membaca lama. Kita bisa mengakses informasi, tapi jarang mengolahnya secara kritis.
Penulis: Lisma Noviani | Editor: Lisma Noviani
TRIBUNSUMSEL.COM -- Jumlah penduduk Indonesia tahun 2026 mencapai 287 juta jiwa, menempatkan negara ini memiliki penduduk terbanyak ke empat di dunia, setelah India, Tiongkok dan Amerika Serikat.
Masyarakat Indonesia ternyata juga konsisten berada di jajaran lima besar pengguna media sosial paling aktif di dunia.
Setiap hari, jutaan video pendek, unggahan status, dan konten instan mengalir deras di genggaman tangan warga dari Sabang sampai Merauke.
Namun, di balik gemerlap aktivitas digital itu, tersembunyi sebuah paradoks yang mengkhawatirkan: tingginya konsumsi konten digital ternyata tidak berbanding lurus dengan kebiasaan literasi membaca buku maupun teks panjang.
Jelang peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei 2026, data-data terkini mengungkap wajah ganda bangsa yang sangat aktif secara digital, namun masih tersendat dalam literasi mendalam.
Dihimpun dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Indeks Kegemaran Membaca nasional hanya berada di angka 54,80 poin, kategori yang masih tergolong "sedang".
Lebih mencengangkan, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2025 tercatat hanya 40,06 dari skala 100.
Angka-angka ini kontras tajam dengan fakta bahwa rata-rata pengguna internet di Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di platform digital.
Ironisnya, waktu tersebut didominasi oleh konten visual singkat dan umpan algoritmik, bukan oleh teks analitis, artikel panjang, atau buku.
Aktivitas digital ini, secara statistik, tidak berkorelasi positif dengan kebiasaan membaca bermakna.
Dampak dari paradoks ini terukur jelas dalam pemetaan global.
Dikutip dari hasil PISA (Programme for International Student Assessment) --adalah studi evaluasi sistem pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh OECD setiap tiga tahun. PISA mengukur kemampuan akademis siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains.
PISA 2022, skor literasi membaca Indonesia anjlok ke level 359 poin tercatat sebagai rekor terendah sejak pertama kali diujikan pada tahun 2000.
Penurunan 12 poin dari 2018 menempatkan Indonesia di peringkat 70 dari 81 negara peserta, jauh di bawah rata-rata OECD. UNESCO juga mencatat posisi Indonesia di peringkat ke-100 dari 208 negara untuk tingkat literasi pada 2022.
Padahal, secara teknis, tingkat melek huruf (literacy rate) Indonesia sudah menembus 96 persen. Artinya, masalah bangsa ini bukan lagi pada kemampuan mengeja atau membaca huruf, melainkan pada kebiasaan, kedalaman, dan kebermaknaan membaca itu sendiri.
Indonesia dihadapkan pada warganya yang bisa membaca tapi enggan membaca lama. Kita bisa mengakses informasi, tapi jarang mengolahnya secara kritis.
Mengapa Digital tidak Otomatis Mendongkrak Literasi?
hari buku nasional 2026
tema hari buku nasional 2026
Refleksi Hari Buku Nasional 2026
Literasi Membaca
Indonesia Aktif Secara Digital Pasif dalam Literas
Tribunsumsel.com
Tribunnews.com
| Daftar Promo Diskon Buku di Toko Buku Gramedia, Bertepatan Momen Hari Buku Nasional 17 Mei 2026 |
|
|---|
| Sejarah dan Tema Peringatan Hari Buku Nasional Tanggal 17 Mei 2026, Bertepatan HUT ke-46 Perpusnas |
|
|---|
| 20 Contoh Tema Hari Buku Nasional 2024, Edukatif Menginspirasi, untuk Kegiatan Sekolah Hingga Umum |
|
|---|
| Hari Buku Nasional 17 Mei: Sejarah, Tokoh dan Latar Belakang Peringatannya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Grafis-digital-vs-literasi.jpg)