Transformasi Sampah MBG: Solusi Lingkungan Sekaligus Penggerak Ekonomi Lokal
sisa makanan dari dapur MBG bisa langsung diolah menjadi kompos, sementara sampah organik lainnya bisa diproses oleh sekolah atau bank sampah
Penulis: Fransisca Andeska | Editor: Content Writer
Ia menerangkan bahwa pendekatan sirkular tersebut memungkinkan limbah organik diolah menjadi biogas, pelet pakan ikan, hingga pupuk organik. Proses itu bahkan menghasilkan omzet hingga Rp10 juta per bulan, sekaligus membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Andika juga menekankan pentingnya pemetaan sisa makanan atau food mapping untuk menekan food waste, mengingat limbah makanan berdampak langsung pada kualitas air, tanah, dan udara.
“Prinsip kami adalah tidak ada makanan yang sia-sia. Apa yang tidak bisa dimakan manusia, bisa menjadi energi bagi bumi,” ucap Andika.
Penerapan ini terlihat di Pondok Pesantren Krapyak yang memegang prinsip “Sampah Hari Ini Selesai Hari Ini”. Setiap sisa makanan dari dapur dan kantin langsung dipilah dan diproses melalui fermentasi anaerob, menghasilkan pupuk organik dan gas metana yang dimanfaatkan kembali untuk memasak.
Lebih dari Gizi, Buka Peluang Ekonomi dan Lingkungan
Peluang MBG dalam menggerakkan ekonomi lokal lewat rantai suplai bahan pangan dan pengolahan lokal juga turut melibatkan petani, UMKM komunitas daur ulang, dan sekolah atau masyarakat lokal dalam pengolahan sampah. Dengan begitu, setiap piring makan yang sampai di meja siswa dapat turut menggerakkan ekonomi setempat.
Di sisi lain, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan. Tanpa sistem pemilahan sampah yang tepat, fasilitas pengolahan, dan edukasi yang merata, volume sampah dari MBG bisa membengkak dan memberi beban baru bagi lingkungan.
Karenanya, pengelolaan limbah yang tepat menjadi kunci utama agar setiap sisa makanan bisa kembali memberi manfaat dan ekonomi lokal ikut bergerak.
Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas, dan lembaga riset diperlukan untuk memastikan bahwa manfaat MBG benar-benar optimal, baik untuk anak-anak maupun bumi.
Dengan tata kelola yang baik dan pendekatan berkelanjutan, MBG bisa menjadi gerakan nasional yang menyatukan gizi anak, ekonomi masyarakat lokal, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Baca juga: Tak Hanya Berakhir di Tempat Sampah, Limbah MBG Disulap Jadi Pakan Ternak dan Pupuk
| 72 Lurah Dikumpulkan Kejari Lubuklinggau, Diajak Awasi MBG, Koperasi Merah Putih Hingga Dana Desa |
|
|---|
| Kepala SLB Pagar Alam Ngeluh, Siswanya Belum Terima Program MBG Saat Sekolah Tetangga Sudah Kebagian |
|
|---|
| Terpukulnya Cinta Kuya usai Uya Kuya sang Ayah Difitnah Miliki 750 Dapur MBG: Pa, Ini Apa Lagi? |
|
|---|
| Bantah Punya 750 Dapur MBG, Uya Kuya Akui Hanya Punya Dapur Restoran, Rugikan Nama Baik |
|
|---|
| Program MBG Diharapkan Bisa Perangi Stunting di Palembang, Kualitas Gizi Ditingkatkan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Melihat-Dapur-Luas-dan-Bersih-di-SPPG-Polda-Sumsel-di-Pakri-Palembang-Olah-Ribuan-Makanan.jpg)