Harga Karet Hari Ini

Harga Getah Karet di OKU Timur Sumsel Naik-Turun, Petani Tertekan Produksi Menurun

Harga getah karet di OKU Timur terus bergerak variatif. Di tingkat petani mencatat harga mulai dari Rp10.500, Rp11.500, hingga Rp13.100 per kg,

TRIBUNSUMSEL.COM/CHOIRUL ROHMAN
HARGA KARET -- Getah karet hasil sadapan yang siap ditimbang di tingkat kelompok tani, Senin (18/08/2025). Petani mengeluhkan hasil panen berkurang hingga 50 persen di musim cuaca tidak menentu. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA – Harga getah karet di Kabupaten OKU Timur terus bergerak variatif.

Saat ini, tingkat petani mencatat harga mulai dari Rp10.500, Rp11.500, hingga Rp13.100 per kilogram, tergantung usia getah saat ditimbang.

Untuk getah hasil panen tiga hari, petani hanya menerima Rp10.500 per kilogram.

Sementara getah yang sudah berusia seminggu lebih dihargai Rp11.500, dan getah dua minggu bisa tembus Rp13.100 per kilogram untuk di kelompok tani.

Namun, di balik variasi harga itu, para petani justru menghadapi persoalan produksi yang menurun tajam akibat cuaca tak menentu.

Agus Supriyono, petani karet asal Desa Kota Mulya, Kecamatan Semendawai Timur, mengaku hasil sadapannya kini anjlok hingga setengah dari kondisi normal.

“Cuaca sekarang kadang panas, kadang hujan. Daun karet yang tua berguguran, lalu saat tumbuh daun muda malah rontok lagi kena hujan. Akibatnya getahnya sedikit, bahkan kadang tidak keluar sama sekali,” ungkap Agus, Senin (18/08/2025).

Ia menambahkan, dalam kondisi seperti ini, sebagian petani memilih tidak menyadap. Pasalnya, jika dipaksakan, kulit pohon karet bisa rusak.

“Kalau kulit pohon mati, sudah tidak bisa keluar getah lagi. Jadi kebanyakan petani tidak menyadap bahkan ada yang memberikan pupuk pada pohon karet,” ujarnya.

Sementara itu, Adi, petani dari Desa Perjaya, Kecamatan Martapura, mengatakan di wilayahnya jadwal timbang dilakukan setiap dua minggu sekali di hari Rabu. 

“Minggu kemarin waktu timbang, harganya masih di angka Rp13.100 di kelompok karet. Tapi produksinya memang lagi menurun,” kata Adi.

Menurutnya, meski harga terlihat cukup menjanjikan, kenyataannya tidak sebanding dengan hasil panen yang didapat.

“Sekarang mau harga tinggi pun kalau getahnya sedikit tetap terasa berat. Biaya untuk pupuk, perawatan, dan kebutuhan harian jauh lebih besar daripada penghasilan,” keluhnya.

Adi menegaskan, para petani hanya bisa berharap cuaca kembali bersahabat.

“Kalau sudah masuk musim normal, pohon kembali subur, baru kami bisa sedikit lega. Saat ini ya dijalani saja, sambil menunggu hasil yang lebih baik,” tutupnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved