Pilpres 2024

Sosok 3 Tokoh Pakar Hukum Jadi Pemeran Film Dirty Vote Ceritakan Soal Kecurangan Pemilu 2024

Inilah sosok tiga nama tokoh pakar hukum yang berperan dalam film dokumenter Dirty Vote. Mereka adalah Feri Amsari, Bivitri Susanti, dan Zainal Arifin

Penulis: Aggi Suzatri | Editor: Slamet Teguh
X/ Dirty Vote
Inilah sosok tiga nama tokoh pakar hukum yang berperan dalam film dokumenter Dirty Vote. Mereka adalah Feri Amsari, Bivitri Susanti, dan Zainal Arifin 

Pria kelahiran 8 Desember 1978 juga merupakan lulusan Fakultas Hukum UGM tahun 2003.

Dia beberapa kali tampil di acara televisi nasional, bahkan pernah dipercaya menjadi moderator dalam debat Capres dan Cawapres pada 2014 lalu.

Buat Karni Ilyas Tak Berkutik di ILC TV One, Ini Sosok Zainal Arifin Mochtar, Anak Ulama Besar
Buat Karni Ilyas Tak Berkutik di ILC TV One, Ini Sosok Zainal Arifin Mochtar, Anak Ulama Besar (Tangkapan Layar Youtube ILC)

Pada awalnya Zainal ingin berkuliah di Jurusan Teknik Geologi UGM namun 2 kali gagal dalam mencoba membuat ia melanjutkan studi di jurusan Hukum.

Setelah menyelesaikan S1, Zainal mengambil gelar master hukumnya dari Northwestern University, Amerika Serikat, pada 2006.

Di balik kesuksesannya, Zainal pernah menjadi bahan cibiran publik.

Peristiwa itu terjadi saat dia memandu debat Capres dan Cawapres pada 2014 lalu, di mana dia melarang penonton untuk bertepuk tangan sebelum dipersilakan.

Bergabung Dalam Film Dirty Vote

Feri Amsari, Bivitri Susanti, dan Zainal Arifin Mochtar tampil memaparkan tentang penyimpangan yang terjadi dalam berbagai hal terkait proses Pemilu di dalam Indonesia yang menerapkan praktik demokrasi.

Pembuatan film Dirty Vote merupakan hasil kolaborasi lintas lembaga sipil.

Menurut Ketua Umum Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) sekaligus produser, Joni Aswira, dokumenter itu turut memfilmkan hasil riset kecurangan pemilu yang selama ini dikerjakan koalisi masyarakat sipil.

Biaya produksi film Dirty Vote, kata Joni, dihimpun melalui pengumpulan dana (crowd funding), sumbangan individu, dan lembaga.

“Biayanya patungan. Selain itu, Dirty Vote juga digarap dalam waktu yang pendek sekali sekitar dua minggu, mulai dari proses riset, produksi, penyuntingan, hingga rilis. Bahkan lebih singkat dari penggarapan End Game KPK (2021),” kata Joni.

Sejumlah lembaga yang berkolaborasi dalam film itu adalah Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Bangsa Mahardika, Ekspedisi Indonesia Baru, Ekuatorial, Fraksi Rakyat Indonesia, Greenpeace Indonesia, Indonesia Corruption Watch, Jatam, Jeda Untuk Iklim, KBR, LBH Pers, Lokataru, Perludem, Salam 4 Jari, Satya Bumi, Themis Indonesia, Walhi, Yayasan Dewi Keadilan, Yayasan Kurawal, YLBHI, dan WatchDoc.

Baca berita lainnya di google news

Ikuti dan bergabung di saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved