Arti Kata Bahasa Arab

Arti Tabayyun, Ber-Tabayyun Adalah, Istilah Bahasa Arab dalam Upaya Menangkal Hoaks di Musim Politik

Tabayyun dapat diartikan sebagai konsep cek dan ricek kebenaran, sesuai dengan Islam yang menjunjung sumber kebenaran Alquran dan hadits.

Penulis: Lisma Noviani | Editor: Lisma Noviani
Grafis MG Tribunsumsel.com/Dimas/Rafli
Arti Tabayyun, Ber-Tabayyun adalah, istilah Bahasa Arab dalam upaya menangkal hoaks di musim politik. 

Ini sesuai firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6. Dalam ayat itu, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengklarifikasi setiap mendengar berita hoaks dan negatif.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).


Konsep ini merupakan salah satu tradisi ajaran Islam yang dapat menjadi solusi dari zaman ke zaman, terutama bagi informasi-informasi hoaks yang berpotensial memunculkan konflik di tengah masyarakat, termasuk di masa musim politik Pemilu 2024 yang akan segera dijelang.


Membudayakan tradisi bertabayyun di segala aspek dan kondisi adalah jalan yang harus ditempuh umat muslim saat ini.

Biasanya pemahaman hak kebebasan berbicara dan berpendapat menyebabkan hoaks semakin merajalela, mengakibatkan masyarakat terpecah belah dan tidak terlatih melihat persoalan dari berbagai sisi.

Tanpa disadari hak kebebasan berbicara dan berpendapat mengikis moralitas kehidupan berbangsa dan bernegara.


Tabayyun adalah sikap yang harus dilakukan seorang muslim dalam menerima sebuah informasi dari manapun agar umat Islam tidak mudah terprovokasi, diadu domba, dipecah belah dan dihancurkan. 

Dengan adanya tabayyun maka segala informasi akan dipastikan terlebih dahulu kebenarannya. Jika berita itu benar adanya bolehlah disampaikan kepada orang lain.

Jika tidak benar, jangan justru ikut menyebarkan berita bohong. Selain itu, dengan bersikap tabayyun juga akan memberikan ketenangan dalam hati. Karena berita tersebut tentunya tidak akan menyakiti perasaan orang lain.

 Saat zaman Rasulullah SAW telah ada yang namanya berita bohong, dikisahkan Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mui'th tatkala ia diutus untuk mengambil dana zakat dari Bani Musthaliq, Al-Walid menyampaikan laporan kepada Rasulullah SAW bahwasanya mereka telah murtad.

Padahal Al-Walid tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musthaliq karena merasa ketakutan dan pulang ketika Said dari Qotadah dan beberapa orang akan menemuinya.

Rasulullah SAW kemudian mengutus Khalid bin Walid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah Q.S. Al Hujurat: 6 

 Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.


 Prof. DR. Quraish Shihab mengatakan ada dua hal penting yang harus perhatikan dalam melakukan tabayyun.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved