Polisi Tewas Ditembak Senior di Bogor

Perjuangan Bripda Ignatius Masuk Polisi hingga Lulus di Densus 88 Antiteror, Kini Tewas Tertembak

Pria yang menjabat sebagai pejabat inspektorat Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat tersebut mengatakan, Ignatius memang sejak kecil sudah memiliki cita

|
Editor: Weni Wahyuny
Kolase Tribunnews.com: TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Agus Pujianto
(Kiri) Foto mendiang Bripda Ignatius Dwi Frisco Sirage dan (Kanan) Y. Pandi, ayah Bripda ignatius bercerita tentang mendiang anaknya. Inilah perjuangan Bripda Ignatius masuk polisi 

TRIBUNSUMSEL.COM - Bripda Ignatius Dwi Frisco Sirage alias Bripda IDF, namanya belakangan ramai diperbicangkan setelah tewas diduga ditembak seniornya di Rusun Polri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat pada Minggu 23 Juli 2023.

Tewasnya polisi muda ini membuat keluarga yang ditinggalkan terpukul.

Apalagi jika mengingat perjuangan Bripda Ignatius untuk menjadi bagian dari abdi negara.

Perjuangan Bripda Ignatius masuk polisi diungkap ayahnya, Y Pandi.

Pria yang menjabat sebagai pejabat inspektorat Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat tersebut mengatakan, Ignatius memang sejak kecil sudah memiliki cita-cita sebagai abdi negara.

Ignatius sempat mencoba mendaftarkan diri sebagai prajurit TNI selepas lulus dari SMA Santa Maria.

Namun saat tes, Ignatius harus menelan pil pahit kegagalan.

Ignatius tidak menyerah dengan keadaan dan tetap dengan cita-citanya.

Baca juga: Briptu Tiara Nissa, Polisi Indonesia Dinobatkan sebagai Lulusan Berprestasi Akademi Kepolisian Turki

Pada tahun 2021, ia kemudian mendaftarkan diri di Bintara Polri Polda Kalbar.

Berkat perjuangannya, Ignatius dinyatakan lulus.

Dirinya kemudian menempuh pendidikan Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Kalbar.

Selama 5 bulan lamanya, Ignatius digembleng menjadi anggota Polri hingga akhirnya dinyatakan lulus.

Y Pandi menyebut, anaknya lalu mengikuti seleksi Densus 88 Antiteror.

Ia berhasil menyingkirkan ratuasan peserta lainnya.

Baca juga: 5 Fakta Ojol Selamatkan Penumpang dari Penipuan Loker di Bekasi, Korban Ditahan, Polisi Turun Tangan

"Saya merasa sangat bangga, dari sekian ratus peserta hanya dua yang terpilih, sebagai orang tua bangga," kata Y Pandi, dikutip dari TribunPontianak.co.id, Jumat (28/7/2023).

Y Pandi melanjutkan, saat pengumuman nama Ignatius disebutkan pertama kali sebagai peserta yang lolos.

Ketika itu pengumuman disampaikan oleh Kapolda Kalbar.

Y Pandi menilai, anaknya Ignatius bisa terpilih jadi karena memenuhi kompetensinya.

"Mungkin anak saya dari sekian lama pendidikan, Anak saya boleh dikatakan mungkin cocok dan mampu," tegas Y Pandi.

Baca juga: Hasil Autopsi Bripda Ignatius Dwi Frisco Tewas Diduga Ditembak Senior, Polisi Sebut Satu Luka Tembak

Tak punya masalah dengan kawan

Y Pandi mengungkap sosok dan kepribadian dari Ignatius.

Pemuda yang akrab disapa Dede itu merupakan anak baik dan berbakti kepada orang tua.

Ignatius selama bertugas juga tidak lupa berkabar dengan keluarga.

Meskipun sibuk, ia tetap menyempatkan diri berkirim pesan.

"Dia itu selalu chat, telpon, memberitahu tugas dimana, itu rutin setiap hari kami berkomunikasi.

(Jika) tidak sempat dia pasti chat, kalau waktu agak panjang, dia video call," tambah Y Pandi, dikutip dari TribunMelawai.com.

Bahkan Ignatius, sempat menghubungi orangtuanya di hari insiden berdarah yang menewaskannya.

Pada Sabtu, 22 Juli 2023 malam, Ignatius melakukan video call dengan sang ayah.

Ia juga mengubungi pacarnya yang berada di Pontianak hingga Minggu 23 Juli 2023 dini hari.

"Kami masih video call. Sampai kepada kakaknya juga, pacarnya juga. Kami sampai jam 1 (video call)," ujarnya.

Y Pandi menambahkan, selain baik kepada keluarganya, Ignatius juga mudah bergaul dengan kawan-kawannya.

Ignatius dikenal supel sehingga tidak pernah terlibat masalah.

"Anak saya ini anaknya humanis. Sangat humanis dia.

Tidak pernah ada permusuhan dengan kawan-kawannya," imbuhnya.

Sementara terkait kasus kematian anaknya, Y Pandi meminta keadilan.

Ia berharap kasus ini diusut tuntas sehingga tidak ada Ignatius-Ignatius selanjutnya di kemudian hari.

"Kami berharap supaya kasus diungkap tuntas. Supaya tidak ada timbul kasus baru setelah anak saya, siapa lagi kedepan kan kita ndak tahu," tegas Y Pandi, dikutip dari TribunPontianak.co.id.

Terakhir, Y Pandi meyebut pihaknya akan meminta bantuan kepada tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH) milik pengacara kondang Hotman Paris.

Tim LBH sendiri sudah mendatangi kediaman Y Pandi untuk meminta keterangan.

"Saya bersedia. Mereka mau membantu dalam mengusut tuntas kejadian yang anak kami alam," katanya.

Informasi tambahan, Bripda IDF tewas tertembak senjata saat berada di Rusun Polri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu 23 Juli 2023.

Buntutnya dua rekannya Bripda IMS dan Bripka IG ditetapkan sebagai tersangka.

Kata Mahfud MD

Insiden penembakan polisi terhadap sesama anggota polisi di Bogor turut jadi perhatian menteri kordinator bidang politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Adapun kasus penembakan tersebut dikatakan Mahfud MD biar diselesaikan oleh internal Polri sendiri.

Pasalnya, kasus tersebut sudah direspon cepat oleh Korps Bhayangkara.

Kasus penembakan sesama polisi tersebut biar diselesaikan oleh internal Polri sendiri.

Sebab, kasus tersebut sudah direspons cepat oleh Korps Bhayangkara tersebut.

“Biar diselesaikan oleh polisi. Kan sudah ditangani ya, sudah direspons,” kata Mahfud di Jakarta, Kamis (27/7/2023) melansir Kompas TV.

Mahfud mengatakan bahwa dirinya tidak perlu berbicara dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terkait insiden penembakan tersebut karena sudah direspons dengan cepat.

“Kan tidak usah semua hal saya harus ngomong ke beliau, itu sudah ada prosedurnya dan sudah cepat menurut saya cara menanggapinya (meresponsnya),” ujar Mahfud.

Adapun polisi yang tewas tertembak itu merupakan anggota Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiteror Polri bernama Bripda Ignatius Dwi Frisco.

Peristiwa penambakan itu terjadi di kawasan Rumah Susun (Rusun) Polri, Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat pada Minggu (23/7/2023) pukul 01.40 WIB.

Sedangkan terduga pelaku yang melakukan penembakan merupakan senior korban masing-masing berinisial Bripda IMS dan Bripka IG.

Saat ini, kasus penembakan itu tengah ditangani oleh Densus 88 Antiteror Polri bersama Polres Bogor.

"Permasalahannya sedang ditangani bersama oleh Densus dan Polres Bogor," kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol. Aswin Siregar.

Kombes Aswin mengatakan, penembakan itu terjadi karena kelalaian anggota yang mengeluarkan senjata dari dalam tas hingga mengenai rekannya.

"Yang terjadi adalah kelalaian anggota pada saat mengeluarkan senjata dari tas, kemudian meletus dan mengenai rekannya yang berada di depannya," ujar Aswin.

Kombes Aswin menambahkan pihaknya telah mengamankan dua terduga pelaku penembakan terhadap korban Bripda Ignatius Dwi Frisco.

Bidang Profesi dan Pengamanan atau Propam Polda Jawa Barat telah dilibatkan untuk mendalami pelanggaran etik yang terjadi akibat penembakan ini.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan sebelumnya menyampaikan bahwa pihaknya tidak akan memberikan toleransi kepada oknum yang melanggar peraturan.

Hasil autopsi Bripda Ignatius tewas diduga ditembak senior. Ada satu luka di bagian telinga (Tribun Pontianak)

“Terhadap tersangka yaitu Saudara Bripda IMS dan Saudara Bripka IG telah diamankan untuk dilakukan penyelidikan dan penyidikan terkait peristiwa tersebut,” kata Ramadhan kepada wartawan, Rabu (26/7/2023).

Adapun kabar kematian Bripda Ignatius sebelumnya sempat viral di media sosial. Dalam sebuah akun video di Instagram, tampak ada jenazah anggota Polri di dalam peti mati.

Narasi dalam video tersebut menyebutkan bahwa jenazah tersebut adalah Bripda Ignatius Dwi Frisco Sirage yang diduga tewas ditembak oleh sesama anggota Polri.

Dalam video itu, juga memperlihatkan bekas bekas tembakan di bagian kepala, seperti belakang telinga korban.

Hasil Autopsi

Hasil autopsi yang dilakukan pada Selasa (25/7/2023), Rumah Sakit Polri Kramat Jati menemukan adanya satu luka tembak di bagian belakang telinga kanan sampai kiri Bripda Ignatius.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Polri Kramat Jati Brigjen Hariyanto.

"Iya ada autopsi kasus perlukaan letusan senja api (luka tembak) anggota Polri. Permintaan otopsi dari Polres Bogor," katanya saat dihubungi, Kamis (27/7/2023).

Dia memastikan tidak ada lagi luka lain di tubuh Brigadir Ignatius dan hanya ada satu luka tembak saja.

"Satu (luka tembak). Di bagian belakang telinga kanan sampai belakang telinga kiri. Tak ada (luka lain)," ungkapnya.

Hariyanto mengatakan jenazah Bripda Ignatius sudah dikembalikan ke pihak keluarga di Pontianak, Kalimantan Barat setelah selesai dilakukan otopsi.

Terpisah, kematian Bripda IDF anggota Polri asal Kabupaten Melawi ini dinilai ada kejanggalan bagi pihak keluarga.

Pasalnya, pihak keluarga menilai Bripda Ignatius Dwi Frisco Sirage meninggal secara tidak wajar.

Penasehat Hukum keluarga, Jelani Christo dari informasi pihaknya terima, korban mengalami luka tembak karena rekannya sesama anggota Polri saat bertugas di Densus 88 Mabes Polri mengeluarkan senjata, dan senjata itu tiba-tiba meletus mengenai korban.

"Berdasarkan informasi juga yang kami dapatkan dari beberapa Rekan yang sudah mendapatkan keterangan dari pihak kepolisian bahwa Pukul 01.42 WIB, Bripda IV mengeluarkan senpi dari dalam tas untuk diperlihatkan kepada korban, tiba - tiba senjata itu meletus dan mengenai leher korban," jelasnya. Dilansir TribunPontianak, Kamis (27/7/2023).

Menurutnya, hal tersebut dinilai ada Kejanggalan dan ada Skenario Kejahatan besar dan sangat tidak masuk akal.

"Hal tersebut di atas menurut hemat kami ada Kejanggalan dan ada Skenario Kejahatan besar dan sangat tidak masuk akal," terangnya.

Kendati begitu, pihak keluarga meminta dan mendesak Presiden RI Jokowi, Menkopulhukam Mahfud MD, Kapolri dan Kadiv Propam Polri untuk Segera mengusut dengan tuntas, transparan, profesional, dan berkeadilan.

"Kami kuasa hukum keluarga korban juga sudah berkoordinasi dengan pihak keluarga agar dilakukan autopsi ulang guna membuka terang penyebab tewasnya mendiang Bripda Ignatius," tuturnya.

 

(Tribunnews.com/Endra Kurniawan)(TribunPontianak.co.id/TribunMelawai.com/Agus Pujianto/Ferryanto)

Baca berita lainnya di Google News

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ayah Kenang Kehidupan Bripda IDF: Pernah Gagal jadi Prajurit TNI, Tak Punya Masalah dengan Kawan

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved