Berita Palembang

Harga TBS Sumsel Mei 2023, Kelapa Sawit Turun Jadi Rp 2.170 per Kilogram

Harga tandan buah segar (TBS) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bulan Mei 2023 terus mengalami penurunan.

DOK TRIBUN SUMSEL
Update harga TBS Sumsel bulan Mei 2023. 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati


TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Harga tandan buah segar (TBS) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus mengalami penurunan.

Harga terupdate TBS turun Rp 159,61 per kg

Sehingga harga TBS kini menjadi Rp 2.170 per kg.

Update harga TBS disampaikan Analis PSP Madya Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Rudi Arpian SP MSi.

"Harga TBS saat ini Rp 2.170 per kg, atau turun Rp 159,61 per kg dari periode sebelumnya," katanya, Jumat (19/5/2023).

Baca juga: Kekayaan Basyaruddin Akhmad, Kadis Perkim Sumsel Maju Pilkada Palembang, Terdata Tak Punya Kendaraan

Pada periode pertama Mei, harga TBS sawit tahun tanam 10-20 tahun Rp 2.330 per kg. Lalu pada periode kedua Mei harga TBS Sawit Rp 2.170 per kg.

Lalu untuk harga TBS sawit tahun tanam 3 tahun Rp 1.894 per kg, tahun tanam 4 tahun Rp 1.943 per kg, tahun tanam 5 tahun Rp 1.987 per kg.

Tahun tanam 6 tahun Rp 2.026 per kg, tahun tanam 7 tahun Rp 2.062 per kg, tahun tanam 8 tahun Rp 2.094 per kg , dan tahun tanam 9 tahun Rp 2.122 per kg.

Kemudian, tahun tanam 10-20 tahun Rp 2.170 per kg, tahun tanam 21 tahun Rp 2.142 per kg, tahun tanam 22 tahun Rp 2.118 per kg.

Tahun tanam 23 tahun Rp 2.089 per kg, tahun tanam 24 tahun Rp 2.056 per kg dan tahun tanam 25 tahun Rp 1.983 per kg. Untuk harga CPO dari Rp 10.996 per liter turun menjadi Rp 10.233 per liter.

Harga inti sebelumnya Rp 5.408 dengan indeks K 87,87 persen turun menjadi Rp 5.075.

Menurut Rudi, harga TBS sawit terhitung sejak periode April 2023 secara konsisten mengalami penurunan. Penurunan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Pertama, turunnya harga TBS itu disebabkan oleh penurunan harga penjualan Crude Palm Oil (CPO) dan Karnel yang disampaikan perusahaan anggota tim penetapan TBS di Sumsel.

Lalu, penurunan juga disebabkan oleh membludaknya minyak nabati dari kedelai dan bunga matahari di pasar global, yang menyebabkan konsumsi minyak banyak beralih.

"Minyak nabati dari kedelai dan bunga matahari sebagai kompetitor sedang membanjiri pasar global. Penurunan harga ini belum begitu terasa bagi petani plasma dan swadaya," katanya

Pasalnya saat ini tingkat produksi TBS Indonesia masih mengalami penurunan yang disebabkan oleh trek. Namun jika dibiarkan memasuki musim produksi tinggi selepas Idul Adha nanti, maka dampak dari minyak nabati ini akan mulai terasa bagi petani sawit.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved