Berita Viral
Sosok Pepi Fernando Mantan Napiter yang Pernah Teror Bom Buku di Rumah Ahmad Dhani : Saya Minta Maaf
Inilah sosok Pepi Fernando mantan narapidana terorisme (napiter) jaringan Negara Islam Indonesai yang diduga sempat teror bom buku Ahmad Dhani.
Penulis: Laily Fajrianty | Editor: Weni Wahyuny
TRIBUNSUMSEL.COM - Inilah sosok Pepi Fernando mantan narapidana terorisme (napiter) jaringan Negara Islam Indonesai yang diduga sempat teror bom buku Ahmad Dhani yang dilakukannya pada tahun 2011 silam.
Sosok Pepi Fernando baru-baru ini muncul dalam tayangan YoutTbe Close The Door Dedy Corbuzier, Kamis (16/3/2023).
Pepi mengaku dulu pernah menjadi seorang wartawan intertainment.
Pepi Fernando mengaku pemicu dirinya mengirim teror bom buku kepada Ahmad Dhani karena suami Mulan Jameela disebut-sebut merupakan keturunan Yahudi.
Ia mengaku bahwa tindakan tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk meneror Ahmad Dhani.
Pasalnya, diakui Pepi teror tersebut direncanakan bukan ke Ahmad Dhani melainkan ingin menghantam Yahudi.
"Bom buku dulu tahun 2011. Ada ke empat tujuan, ada Ahmad Dhani, Pak Yapto, kemudian Mas Ulil Abshar, satu lagi lupa karena kelamaan," kata Pepi seperti dikutip melalui tayangan kanal YouTube Deddy Corbuzier pada Kamis (16/3/2023).
Meski peristiwa yang terjadi pada tahun 2012 silam, Pepi mengaku masih memiliki rasa bersalah yang mendalam.
Ia pun menyampaikan maaf kepada orang-orang yang pernah menjadi targetnya hingga seluruh masyarakat Indonesia.
Ia pun mengkungkap alasan mengirimkan bom buku di rumah Ahmad Dhani.
"Karena hari itu Mas Dhani itu lagi kencang-kencangnya bahwa beliau itu keturunan Yahudi. Jadi memang bukan Mas Dhani yang ingin dihantam, tapi Yahudinya itu lah yang ingin saya hantam (saat) itu," terang Pepi.

Pepi bercerita bagaimana dirinya terpapar paham radikal.
Saat itu dirinya berprofesi sebagai wartawan gosip.
Berawal dari pencarian jati diri karena saat itu dirinya kenal dengan dunia malam.
"Sebetulnya saya dasarnya dari kecil sudah pesantren, sekolah hingga kuliah Islam. Saat itu setelah jadi wartawan seolah-olah terhapus semua," katanya.
Kemudian, lanjut Pepi, dirinya tengah berada di titik nol dan perlahan mulai kembali menjaga salat dan sebagainya hingga ia bertemu dengan teman yang menawarkan bahwa 'ini loh Islam sebetulnya'.
"Yah, konsep NII lah dan saya tertarik. Dan kebetulan saya berada di titik nol betul dan saya bergabung di NII hampir 3 tahun," ujarnya.
Titik nol yang dimaksud, lanjut Pepi, bukan secara ekonomi, melainkan agama.
"Saya sendiri menyadari bahwa salat saja nggak, puasa saja nggak. Kemudian datanglah teman, di situ saya salat lagi, puasa lagi, mengaji," ungkap Pepi.
Namun lambat laun dirinya terpapar radikal.
Ia bercerita jika konsep NII yang dimaksud iman, hijrah dan jihad.
"Iman kepada Allah SWT, salah satu pengertian hijrah itu dimaksudkan pindah dari kewarganegaraan Indonesia ke NII (Negara Islam Indonesia), hukumnya hukum NII," terangnya.
Sementara di jihad, dirinya mengaku bertolak belakang dengan pikiran saya karena di jihad NII saat itu hanya dijanjikan tunggu perintah.
"Sampai sekarang masih ada janji itu," katanya.
Hingga akhirnya Pepi terus mencari makna 'jihad' dan terus 'mendengungkan' jihad membuat dirinya diusir dari NII karena dianggap tak taat dengan pimpinan.
"Akhirnya saya lihat YouTube bikin bom karena saat itu masih ditemukan caranya, sekarang tidak ada," kata Pepi.
Saat itu dirinya berjalan sendiri dibantu beberapa teman yang ikut keluar dari NII.
Selama 3 bulan, dirinya membuat 12 bom buku.
"Kalau target, seperti Pak Yapto, karena memang di sini (menunjukkan kepala), mindset ideologi tetap nempel NII yang anti Pancasila, anti demokrasi. Pak Yapto itu kan ormas yang kental banget dengan nama Pancasila," ujar Pepi.
Kala itu, lanjutnya, saat pembuatan bom buku dirinya belum bermaksud membunuh, melainkan hanya coba-coba buat bom dengan mesiu racikan sendiri.
Ia ingin melihat seberapa besar ledakannya, meskipun pada akhirnya masih ada yang menjadi korban.
"Karena tujuan akhir saya saat itu adalah ngebom gereja di Serpong. Sementara yang lainnya itu hanya untuk coba-coba seberapa besar ledakannya," ucapnya.
"Dalam kesempatan ini kalau boleh saya minta maaf, saya minta maaf sebesar-besarnya karena kesalahan saya," ungkapnya dengan suara bergetar.
Ia kembali bercerita saat memasang bom di gereja Serpong.
Ia mengaku sudah memasangnya seminggu sebelum Hari Misa dan sudah dipasang alarm.
"Seminggu sebelum meledak, saya pergi ke Aceh, dan di Aceh saya ditangkap. 2 hari sebelum meledak saya ditangkap karena ketahuan pasang bom Serpong itu, tapi yang bom buku belum ketahuan, setelah pendidikan baru ketahuan," jelasnya.
Dalam kasus tersebut, Pepi divonis 20 tahun penjara dan bebas setelah 11,5 tahun.
"Sekarang masih menjalankan masa pembebasan bersyarat," katanya.
Dari peristiwa itu pula Pepi bak kekeringan air mata karena setiap hari ia menangis usai kejadian tersebut.
"Sebenarnya mau menangis (sekarang) tapi air mata sudah kering karena setiap malam saya menangis jika ingat, betapa dosanya saya menyakiti orang lain. Apalagi sekarang begitu pulang anak-anak sudah besar, bagaimana jika ini terjadi dengan anak-anak kita, sama orangtua kita. Ya Allah, saya sebetulnya bukan orang yang setega itu," ungkap Pepi.
Sebelumnya, mengutip dari Kompas.com, Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjatuhkan hukuman penjara selama 18 tahun kepada terdakwa perkara terorisme terkait kasus bom buku, Pepi Fernando.
Baca juga: Nasib Qomarudin TNI AL Gadungan Viral Ngaku Letkol Ternyata Buronan, Setahun Menikah Istri Ditipu
Hendi dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana diatur dalam Pasal 15 juncto Pasal 6 UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Putusan itu dibacakan ketua majelis hakim Moestofa, di PN Jakarta Barat, Senin (5/3/2012).
Atas putusan itu, terdakwa Pepi Fernando menyatakan pikir-pikir.
Dalam pertimbangannya, majelis hakim berpendapat, terdakwa bersalah melakukan tindak pidana terorisme Pasal 15 juncto Pasal 6 UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Dalam dakwaan, menurut JPU, sekitar bulan Maret 2011, terdakwa bersama terdakwa lain Pepi Fernando membuat bom dalam bentuk buku.
Baca juga: Alasan Sabil Guru Honorer Kritik Ridwan Kamil dengan Kata Maneh, Akui Sang Gubernur Sosok Terbuka
Untuk mengetahui target pengiriman bom buku, terdakwa mencari beberapa nama melalui internet.
Beberapa nama yang ditemukan adalah Ahmad Dani, Japto, Ulil Abshar Abdalla, dan Goris Mere.
Terdakwa Pepi merencanakan dan menggerakkan kelompoknya, yaitu Muhamad Fadil, Hendi Suhartono, Irman Kamaludin, Febri Hermawan, Muhamad Maulana, Watono, Darto, Wari Suwandi, Riki Riyanto, Fajar Dwi Setyo, Mugiyanto, Ade Guntur, Mochmad Syarif, Juni Kurniawan, dan Juhanda, untuk melakukan tindak pidana terorisme.
Baca berita berita lainnya di Google News
Beredar Foto Ahmad Sahroni Diduga Hendak ke Singapura, Youtuber Ferry Irwandi Sebut Pengecut |
![]() |
---|
PENGAKUAN Saksi Mata Lihat Mobil Rantis Brimob Lindas Ojol Saat Bubarkan Demonstran, Semua Dihajar |
![]() |
---|
MOBIL Baraccuda Brimob Lindas Driver Ojol di Pejompongan, Korban Dikabarkan Meninggal Dunia |
![]() |
---|
Leganya Ridwan Kamil Hasil Tes DNA Buktikan CA Bukan Anaknya, Fitnah Lisa Mariana Terpatahkan |
![]() |
---|
Ini Pekerjaan Sintya Cilla Buat Denny Sumargo Syok, Rela Berkorban Uang Demi Ketemu Dj Panda |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.