Harga Karet Palembang

Harga Karet Dunia Akhir Pekan Turun, Harga Karet Sumsel Rp 19.376 per Kg untuk KKK 100 Persen

Harga karet dunia akhir pekan turun dan harga karet Sumsel juga turun jadi

Penulis: Hartati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/WINANDO DAVINCHI
Harga karet dunia akhir pekan turun, dan harga karet Sumsel juga turun jadi Rp 19.376 per kg untuk KKK 100 persen. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -  Harga karet dunia akhir pekan turun dari sebelumnya Rp 19.899 per kg menjadi Rp 19.516 per kg.

Harga karet dunia akhir pekan ini berada di 125.9 sen dolar per Kg. Sedangkan nilai tukar dolar  hari ini di akhir pekan Rp 15.501 per dolar AS.

Harga karet dunia akhir pekan untuk KKK 100 persen Rp 19.516 per kg atau turun Rp 383 per kg, tetapi harga ini belum termasuk ongkos produksi.

Sedangkan harga karet Sumsel akhir pekan turun untuk semua kadar karet kering (KKK) 100 persen hingga 40 persen turun dibanding harga kemarin.

Turunnya harga karet Sumsel sebesar Rp 508 per kg ini karena memang harga karet dunia terus turun.

Meski nilai rupiah melemah terhadap dollar tidak bisa mendongkrak naiknya harga karet.

Baca juga: Harga Karet Hari Ini di OKI Rp 7.000 per Kg, Musim Hujan Produksi Getah Karet Turun

Berdasarkan data Singapore Commodity yang diolah Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel bersama Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, harga karet KKK 100 persen pada 21 Oktober dibandrol Rp 19.376 atau turun Rp 508 dibanding harga kemarin, Kamis (20/10/2022) yang dibandrol Rp Rp 19.884 per kg.

Turunnya harga KKK 100 persen juga diikuti turunnya juga harga karet kualitas lainnya mulai dari 40-90 persen.

Harga KKK 90 persen dibandrol Rp 17.438 per kg, KKK 80 persen dibandrol harga Rp 15.500 per kg.

Sedangkan untuk KKK 70 persen dibandrol Rp 13.563 per kg, KKK 60 persen diharga Rp 11.625 per kg, KKK 50 persen diharga Rp 9.688 per kg, dan KKK 40 persen diharga Rp 7.750 per kg.

Menurut Mirza secara keseluruhan, ada enam faktor yang mempengaruhi harga karet di pasar internasional. Yaitu, nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS. Apabila penguatan kurs dolar AS menjatuhkan nilai tukar mata uang lain, maka akan berpengaruh terhadap harga karet.

Lalu, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam, suplay dan demand karet di pasar karet internasional, perkembangan industri otomotif dan ban. Kemudian faktor cuaca dan hama penyakit.

Harga Karet Sumsel Hari Sebelumnya

Harga karet dunia terus turun berpengaruh terhadap harga karet Sumsel hari ini.

Meski nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar tetapi tidak mendongkrak harga karet sehingga harga karet Sumsel hari ini juga turun.

Bahkan harga karet Sumsel sudah dua hari terakhir turun untuk semua kadar karet kering (KKK) 100 persen hingga 40 persen hari ini turun dibanding harga kemarin.

Berdasarkan data Singapore Commodity yang diolah Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel bersama Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, harga karet KKK 100 persen pada 20 Oktober dibandrol Rp 19.884 per kg atau turun dibanding harga 18 Oktober lalu yang dibandrol Rp 20.177 per kg.

Turunnya harga KKK 100 persen juga diikuti turunnya juga harga karet kualitas lainnya mulai dari 40-90 persen.

Harga KKK 90 persen dibandrol Rp 17.895 per kg, KKK 80 persen dibandrol harga Rp 15.907 per kg.

Baca juga: Cara Menghitung Harga Getah Karet di Pabrik Berdasar Harga Karet Dunia, Petani Perlu Tahu

Sedangkan untuk KKK 70 persen dibandrol Rp 13.918 per kg, KKK 60 persen diharga Rp 11.930 per kg, KKK 50 persen diharga Rp 9.942 per kg, dan KKK 40 persen diharga Rp 7.953 per kg.

Menurut Mirza secara keseluruhan, ada enam faktor yang mempengaruhi harga karet di pasar internasional. Yaitu, nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS. Apabila penguatan kurs dolar AS menjatuhkan nilai tukar mata uang lain, maka akan berpengaruh terhadap harga karet.

Lalu, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam, suplay dan demand karet di pasar karet internasional, perkembangan industri otomotif dan ban. Kemudian faktor cuaca dan hama penyakit.

Negara Penghasil Karet Alam Dunia

Sejumlah negara di Asia menjadi penghasil karet alam dunia.

Berdasarkan rata-rata produksi karet dunia periode 2014-2018, Thailand menjadi negara produsen karet terbesar dengan rerata produksi mencapai 4,58 juta ton.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, Thailand memberikan kontribusi sebesar 31,83 persen dari rata-rata produksi karet dunia pada periode tersebut.

Indonesia berada di posisi kedua dengan rata-rata produksi karet selama 2014-2018 sebesar 3,37 juta ton.

Kontribusi rata-rata produksi karet dari Indonesia di dunia mencapai 23,44 persen .

Indonesia memiliki luas TM (Tanaman Menghasilkan) karet Indonesia yang terbesar di dunia, tetapi produksinya masih dibawah Thailand.

Hal ini terjadi lantaran banyaknya tanaman karet di Indonesia yang sudah tua atau rusak.

Negara produsen karet terbesar ketiga adalah Vietnam dengan rata-rata produksi selama 2014-2018 sebesar 1,05 juta atau 7,28 persen .

Posisi berikutnya berturut-turut adalah India dengan rata-rata produksi 958 ribu ton (6,66 persen ), Tiongkok 822,7 ribu ton (5,72 persen ), dan Malaysia 717,3 ribu ton (4,98 persen ).

Enam Negara produsen karet terbesar dunia didominasi oleh negara dalam kawasan Asia Tenggara. Negara-negara tersebut memberikan total kontribusi rata-rata produksi karet mencapai 79,91 persen.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved