Semburan Lumpur di Indralaya Ogan Ilir
Update Semburan Gas di Indralaya Ogan Ilir, Ini Penjelasan Dinas PU Perkim Sumsel
Dinas PU Perkim Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menjelaskan kelanjutan proyek sumur bor yang memicu Semburan Gas dan lumpur di Indralaya Ogan Ilir
Penulis: Agung Dwipayana | Editor: Yohanes Tri Nugroho
TRIBUNSUMSEL.COM, INDRALAYA - Semburan gas metan yang berdampak pada riakan lumpur masih terjadi di area Sekolah Islam Terpadu (SIT) Menara Fitrah di Indralaya, Ogan Ilir, Jumat (30/9/2022).
Dinas PU Perkim Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai OPD yang ditunjuk Pemprov Sumsel membangun proyek sumur bor yang memicu semburan gas itu mengaku belum menentukan langkah yang akan ditempuh terkait kelanjutan proyek.
Kadis PU Perkim Sumsel Basyaruddin Akhmad, melalui Kabid Perumahan Yudho Joko Prasetyo mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil penelitian semburan gas dari pihak terkait.
"Kemarin kan sudah dilakukan pengecekan oleh Pertamina dan SKK Migas di titik semburan. Nanti kan seperti apa hasilnya, itu yang menjadi masukan ke kami (Dinas PU Perkim)," kata Yudho kepada wartawan di Indralaya, Jumat (30/9/2022).
Yudho sendiri merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dari Dinas PU Perkim Sumsel untuk proyek sumur bor di SIT Menara Fitrah.
Jika masih memungkinkan, maka proyek sumur bor akan dilanjutkan di titik yang saat ini terdapat semburan lumpur.
"Kalaupun harus pindah lokasi, maka kita menyesuaikan dengan rekomendasi dari Pertamina dan SKK Migas. Atau misalnya ganti sumur biasa, maka ganti juga RAB-nya," kata Yudho.
Dijelaskannya, sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB), kedalaman sumur bor tersebut mencapai 135 meter.
Di dunia maya, banyak yang menyamakan semburan lumpur di Indralaya dengan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.
Lalu, apakah benar semburan lumpur yang pertama kali muncul dengan ketinggian 50 meter itu akan membanjiri wilayah Indralaya seperti lumpur Lapindo?
Menurut Yudho, setelah semburan dengan intensitas tinggi, saat ini di titik pengeboran tak ada lagi semburan material berbahaya.
Yudho menerangkan, dorongan gas metan dari bawah tanah mengakibatkan riakan lumpur di lubang dengan diameter 10 meter di titik pengeboran.
"Kalau sekarang kan bisa lihat sendiri, tidak ada semburan yang tekanannya sangat tinggi. Hanya riakan lumpur karena dorongan gas," jelas Yudho.
Disinggung soal lumpur Lapindo, dijelaskan Yudho, kasus di area SIT Menara Fitrah tak akan seperti lumpur yang ada di Sidoarjo tersebut.
Semburan lumpur Lapindo karena dorongan gas bumi akibat penggalian di kedalaman lebih dari 400 meter.
"Kalau di Indralaya itu kan gas metan. Kalau di Sidoarjo, itu gas bumi yang tekanannya sangat tinggi," papar Yudho.
"Jadi jangan samakan 'wah bakalan seperti lumpur Lapindo'. Tidak begitu, beda," paparnya lagi.
Saat ini, Dinas PU Perkim terus berkoordinasi dengan Dinas ESDM Provinsi Sumsel, ahli geologi dan pihak berkompeten lainnya.
Yudho mengatakan, kondisi semburan lumpur di Indralaya akan dipantau hingga beberapa hari ke depan.
Jika semburan gas masih ada, bahkan dengan intensitas yang lebih tinggi daripada saat ini, maka pembangunan sumur bor akan dialihkan.
"Dan jika proyek dialihkan, lokasi yang sekarang ini bakal ditutup seperti semula. Kami bakal cari lokasi lainnya karena sumur bor ini kebutuhan air bagi seluruh siswa dan guru di SIT Menara Fitrah," jelas Yudho.
Penjelasan Pertamina dan SKK Migas
Pertamina dan SKK Migas meninjau langsung titik semburan lumpur di area SIT Menara Fitrah, Indralaya, Ogan Ilir.
Kedatangan tim gabungan ini untuk memastikan seberapa tinggi intensitas semburan lumpur yang berlangsung sejak Sabtu (24/9/2022) lalu.
"Satu yang pasti, tak ada gas beracun yang keluar pada semburan lumpur ini," kata Senior Manajer Operasi Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Bambang Dwi Januarto, Kamis (29/9/2022).
Dijelaskannya lagi, frekuensi volume gas mudah yang terbakar juga sudah semakin mengecil.
"Material yang tersembur sebenarnya hanya gas metan saja, keluar lewat lubang sumur bor," terang Bambang.
Pada kesempatan sama, Pertamina memastikan tak ada minyak yang termuntahkan dari lubang proyek sumur bor.
Tekanan semburan juga diklaim semakin menurun setiap harinya dan kandungan kadar gas yang menurun di angka 10 persen pada hari ini.
"Ambang batas kadar gas yang aman yakni 5 persen. Tekanan gas metan tidak semakin tinggi, tetapi penurunan pasti," terang HSE Manager Pertamina Region 1, Krisman Sihotang.
Dilanjutkannya, Pertamina akan terus memantau kadar kandungan gas di proyek sumur bor SIT Menara Fitrah.
Selain Pertamina dan SKK Migas, pihak yang terlibat pengecekan titik semburan ini yakni Dinas ESDM, Dinas PU Perkim dan BPBD Provinsi Sumatera Selatan.
Baca juga: Mantan Bupati Ilyas Panji Diperiksa Soal Dana Hibah Bawaslu Ogan Ilir, Ini Kata Kejari
Sementara kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka di SIT Menara Fitrah mulai dilaksanakan hari ini.
Menurut Wakil Direktur SIT Menara Fitrah Abdal Mun'im, hal ini berdasarkan arahan dari Pemkab Ogan Ilir melalui Dinas Pendidikan.
"Jadi anak-anak masuk sekolah seperti biasa. Sebanyak 650 siswa baik TK, SD dan SMP IT kami awasi jangan sampai mendekati titik semburan lumpur," kata Mun'im.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Kabar-Terbaru-Semburan-Gas-di-Indralaya-Ogan-Ilir.jpg)