Harga Sawit Sumsel 2022
Update Harga Sawit (TBS) Sumsel Juli 2022, Turun Rp 766 Per kg, Ini Penyebabnya
Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Sumatera Selatan (Sumsel) pada Juli periode I tahun 2022
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Yohanes Tri Nugroho
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Sumatera Selatan (Sumsel) pada Juli periode I tahun 2022 mengalami penurunan cukup drastis yaitu Rp 766,66 per kg dibandingkan periode sebelumnya.
"Harga TBS saat ini Rp 1.870,48 per kg untuk tahun tanam 10-20 tahun, harga ini turun Rp 766,66 per kg dari sebelumnya," kata Analis PSP Madya Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Rudi Arpian, Senin (11/7/2022).
Rudi menjelaskan, penurunan TBS ini dipengaruhi faktor internal, yakni turunnya harga crude palm oil (CPO) dan inti sawit (kernel) hampir di seluruh perusahaan berdasarkan sumber data yang ada.
"Tentunya hal ini sudah pasti memberi dampak kepada harga TBS di tingkat petani sawit di Sumsel," ungkapnya
Menurutnya, secara eksternal penurunan ini diakibatkan juga belum normalnya ekspor CPO Sumatera Selatan pasca pembukaan kran ekspor oleh Presiden Jokowi
"Pemerintah sudah berupaya untuk mendongkrak harga TBS seperti sebelum adanya pelarangan ekspor. Upaya-upaya yang dilakukan seperti mempercepat penyerapan CPO untuk industri dalam negeri," katanya
Lalu mempermudah persyaratan ekspor dan terakhir rencana pemerintah untuk mengurangi atau memberhentikan sementara pungutan ekspor.
"Untuk itu kita berharap petani sawit di Sumatera Selatan dalam penetapan harga TBS periode kedua nanti trend harga diharapkan sudah mulai naik," cetusnya
Hasil Penetapan Harga TBS Sumsel periode I Juli 2022
th 3 (1.628,09):
th 4 (1.670,88);
th 5(1.710,00);
th 6(1.744,70);
th 7(1.775,82);
th 8(1.804,13);
th 9(1.828,10);
th10-20(1.870,48);
th 21(1.845,56);
th 22(1.824,40);
th 23(1.799,33);
th 24(1.770,77);
th 25(1.703,65)
Harga CPO Rp. 8.325,56
Harga inti Rp. 4.668,62
Saran Apkasindo dan Gapki Beri Dongkrak Harga Sawit
Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumsel menyuarakan agar pemerintah memberikan kemudahan dan kelonggaran persyaratan ekspor Crude palm oil (CPO) agar bisa mendongkrak harga sawit yang Anjlok saat ini.
Wakil Ketua Apkasindo Sumsel M Yunus mengatakan sudah sejak awal memprediksi bahwa harga sawit ini bakal anjlok dampak larangan ekspor CPO yang diterapkan pemerintah akhir April hingga Mei lalu.
"Kami sudah menduga ini pasti efek dominonya panjang karena kontrak yang sudah disepakati dibatalkan jadi kita harus membujuk ulang pembeli agar mau tanda tangan kontrak lagi, meloby ulang juga kapal yang batal disewa dan lainnya semua harus diperbaharui lagi," ujar M Yunus, Rabu (6/7/2022).
Meski larangan ekspor sudah dicabut hingga 1,5 bulan namun efeknya masih terasa hingga kini karena sulit dan ribetnya syarat ekspor yang diterapkan pemerintah saat ini.
Yunus berharap pemerintah bisa memberikan kemudahan ekspor dengan meringankan sejumlah kebijakan dan biaya yang harus ditanggung oleh importir.
Mereka berharap kran ekspor yang dibuka ini juga dibarengi dengan kemudahan kebijakan jangan justru dipersulit karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk ekspor membuat daya saing minyak sawit ini kalah bersaing dengan minyak nabati dunia.
Padahal jika head to head minyak sawit dibandingkan minyak nabati, masih unggul minyak nabati daya saingnya namun karena biaya operasional bengkak dengan adanya banyak kebijakan tersebut membuat biaya operasional bengkak.
Seharusnya di saat harga anjlok seperti ini pemerintah bisa memberikan relaksasi biaya operasional ekspor untuk bisa mendongkrak kembali harga CPO sehingga efeknya juga bisa mendongkrak harga sawit di tingkat petani.
Yunus mengatakan saat ini petani dilema antara tetap panen buah sawit atau dibiarkan saja di pohon.
Sebab kalau dipanen rugi karena biaya operasional lebih mahal dari harga sawit yang dipanen karena harga pupuk mahal, upah pekerja yang panen juga besar sedangkan harga TBS anjlok.
Padahal saat ini waktu yang krusial karena musim anak sekolah butuh dana besar dan juga untuk operasional kebun dan juga makan sehari-hari.
Tapi kalau sawit tidak dipanen dan dibiarkan saja di pohon akan membuat buah sawit busuk dan merusak pohon sehingga justru berdampak lebih fatal lagi.
"Bagai buah simalakama, mau panen rugi, tidak dipanen juga rugi sebab merusak pohonnya jadi kami berharap pemerintah bisa segera memberikan solusi masalah ini agar TBS dan CPO bisa kembali naik harganya," harap Yunus.
Baca juga: Politisi PDIP Marahi Menko Marves Luhut Minta Jangan Buang Badan Soal Anjloknya Harga TBS Sawit
Sementara itu Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel Alex Sugiarto mengatakan kondisi tangki penyimpanan yang penuh sehingga produksi CPO terhambat, menjadi salah satu penyebab.
Penyebab lain harga CPO anjlok karena banyaknya kendala atau persyaratan yang membuat perusahaan tidak dapat atau terlambat melakukan ekspor.
Untuk mendongkrak harga TBS tentunya ekspor harus lancar, kondisi tangki terjaga, sehingga tidak ada pembatasan pembelian TBS dari petani dan harga TBS bisa kembali naik .
Perlu dipahami pasca larangan ekspor dicabut, beberapa perusahaan harus melakukan kontrak ulang dengan kapal pengangkut dan eksportir menghadapi ketidakpastian.
"Gapki meminta kepada pemerintah untuk dapat memberikan relaksasi, karena perusahaan melakukan ekspor sawit dengan harga turun, namun kena beban pajak dan pungutan ekspor besar," harap Alex