Berita Palembang
Temuan Bata Kuno di Area Museum SMB II, Arkeolog BRIN: Kemungkinan Pagar Keraton Tengkuruk
Temuan bata kuno di area museum SMB II Palembang, Senin (30/5/2022) diperkirakan berasal dari pagar dalam Keraton Tengkuruk.
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Temuan bata kuno di area museum SMB II Palembang, Senin (30/5/2022) diperkirakan berasal dari pagar dalam Keraton Tengkuruk.
Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sumsel sudah mendapatkan laporan adanya temuan pecahan batu bata di area Museum SMB II Palembang.
Kemudian pada, Rabu (1/6) para arkeolog BRIN Sumsel meninjau secara langsung dan menganalisis temuan pecahan batu bata tersebut.
Arkeolog BRIN Sumsel Retno Purwanti menceritakan di lokasi tersebut terdapat lubang segi empat berukuran 140 cm x 150 cm. Setidaknya ada lima lubang, yang akan digunakan untuk menanam tiang baliho.
"Pada dasar tanah gali ini pecahan-pecahan bata yang tersisa sedikit dan tidak menampakkan adanya susunan bata utuh," kata Retno, Kamis (2/6/2022).
Masih kata Retno, saat dilakukan pembersihan dinding-dinding kotak gali menemukan dua lapis bata pada sudut timur laut, kotak gali dalam kondisi relatif masih utuh. Sementara itu, pada dinding selatan kotak ditemukan bongkahan kayu.
Lalu ditemukan juga pecahan tembikar dan kayu. Hasil pengukuran pecahan bata diperoleh ukuran panjang antara 7-12 cm, lebar 6-7 cm dan tebal 4 cm. Berdasarkan fakta ini dapat diduga bahwa susunan bata yang terangkat karena proses penggalian tanah setebal 6 cm atau terdiri dari 3 lapis bata.
"Berdasarkan hasil penelitian tahun 2014, saat tim Balai Arkeologi Palembang menemukan susunan bata empat lapis di lokasi yang berdekatan maka dapat diperkirakan bahwa pecahan-pecahan bata di atas merupakan bagiannya," ungkapnya.
Baca juga: Kejari Lubuklinggau Limpahkan Berkas Dugaan Korupsi Diklat Kepsek Mura ke Pengadilan, Segera Sidang
Menurutnya, susunan bata tersebut kemungkinan adalah dinding pagar keliling bagian dalam keraton yang membatasi antara halaman rumah-rumah para pangeran, para putri keraton dan rumah sultan, serta bagian-bagian lainnya.
"Sturktur bata ini berasal dari Keraton Tengkuruk, yang juga dikenal dengan nama Kutobatu atau Kutokecik. Dengan mengacu pada denah keraton yang dibuat oleh Mayor William Thorn tahun 1811 di atas, maka, struktur bata kemungkinan adalah lokasi kediaman Pangeran Ratu," bebernya.
Lalu di lubang galian di belakang cungkup arca ditemukan banyak pecahan keramik asing (Cina dan Eropa) dan keramik lokal (gerabah/tembikar) mulai kedalaman 25 cm dari permukaan tanah. Berdasarkan dari bentuk tepiannya pecahan keramik Cina berasal dari bentuk mangkuk, piring, guci dan pasu.
Pecahan keramik tersebut berasal dari masa Dinasti Sung (abad ke-10-12 M) sebanyak dua keping dan Dinasti Qing dari abad ke-18-20 Masehi. Sementara itu, dari temuan pecahan tembikar dapat diidentifikasi bentuk utuhannya berasal dari tempayan dan periuk. Beberapa pecahan tembikar ini memiliki hiasan berbentuk segitiga, garis-garis dan tusuk.
Baca berita lainnya langsung dari google news.