Banjir di Palembang

Walikota Palembang Harnojoyo Ungkap Sebab Palembang Banjir Luar Biasa Saat Natal 2021

Walikota Palembang, Harnojoyo mengungkap sebab banjir luar biasa yang terjadi di Palembang saat Hari Raya Natal 25 Desember 2021 lalu.

Penulis: Sri Hidayatun | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/SHINTA DWI ANGGRAINI
Petugas kepolisian membantu seorang pengendara sepeda motor yang mengalami mogok saat banjir di bawah flyover Simpang Empat Polda Sumsel di Kota Palembang, Sabtu (25/12/2021) 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Menghadapi badai la nina yang diprediksi akan berlangsung sampai bulan Maret, Pemerintah Kota Palembang menggelar apel siaga bersama lintas sektor, Selasa (28/12/2021).

Walikota Palembang, Harnojoyo yang memimpin langsung apel siaga ini mengatakan akan berupaya untuk mengantisipasi ancaman La Nina ini.

"Kami terus berupaya, kesiapan kita akan memaksimalkan semua infrastruktur kita terutama dalam pengendalian banjir paling tidak tidak cukup lama tergenang," ungkap dia.

Harno mengungkapkan penyebab banjir yang terjadi pada 25 Desember 2021 ini pertama dikarenakan curah hujan yang cukup tinggi.

“Hujan yang terjadi Sabtu lalu paling tinggi dalam 31 tahun terakhir,”kata dia.

Rilis dari BMKG, kata orang nomor satu di kota tertua di Indonesia ini, curah hujan yang terjadi kemarin lalu, tercatat sebesar 159.7 mm.

"Ini karena aktifnya fenomenal La Nina, dan terjadi curah hujan yang sangat tinggi yang langsung berdampak genangan disejumlah titik kota ini yang mencapai ketinggian genangan air 1,5 meter, termasuk daerah yang tidak terjadi genangan,” katanya.

Lalu, di hulu Sungai Musi daerah Lematang, Kikim hujan deras hingga masuk ke Sungai Musi sehingga luapan di Sungai Musi.

"Pompanisasi kita sudah berjalan namun yang Bendung akan kita rekontruksi lagi , saat banjir kemarin kita langsung ke titik dan ternyata ada masalah di pompanisasi Bendung yang kekuatannya 36 ribu liter perdetik dan hanya dua pompa yang berfungsi," ungkap dia.

Hal itu dikarenakan jika semua pompa dihidupkan suplai air ke mulut pompa tidak cukup dan menjadi lambat, karena itu dihidupkan hanya dua.

"Kemudian lebar sungai juga kurang lebar sehingga kita akan studi lagi untuk rekontruksi sehingga ke depan akan kita maksimalkan enam pompa ini akan hidup semua tapi ini bukan rusak," ungkap dia.

Harnojoyo menghimbau, terjadinya curah hujan yang sangat tinggi itu, untuk lebih menjadi perhatian untuk sigap dan siaga pada titik titik kawasan yang berpotensi banjir.

Harnojoyo juga mengungkapkan, saat banjir terjadinya dirinya langsung melakukan pengecekan pompanisasi di kawasan Sungai Bendung, dan diketahui dari enam pompanisasi hanya dua pompa
yang bekerja secara maksimal.

"Dengan adanya peristiwa kemarin, saya harapkan adanya rekontruksi terhadap sistem pompanisasi," tegasnya.

Mengantisipasi terjadinya genangan ini, diperlukan meningkat fungsi saluran air terutama gorong gorong.

"Diperlukan juga pendekatan lebih intensif kepada masyarakat akan sosialisasi akan pentingnya menjaga lingkungan dan meningkatkan gotong royong,” ajaknya.

Dan tak kalah pentingnya untuk menertibkan bangunan bangunan yang menyalahi peruntukan menutupi saluran air.

"Kita juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk aktif mewaspadai cuaca ekstrim ini," ajaknya lagi.

Baca juga: Tahap I Rampung, Pembebasan Lahan Tol Indralaya-Prabumulih Tahap II Tinggal 2 Persen

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved