Breaking News:

Porprov Sumsel 2021

Walikota Prabumulih Kecewa Pembatalan Bulutangkis Porprov, Kasihan Atlet Lokal Sudah Lama Berlatih

Ridho Yahya mendesak KONI Sumsel untuk berbenah dan jangan menjadikan kata pembinaan hanya sebagai simbol atau retorika semata

Penulis: Edison | Editor: Wawan Perdana
Tribun Sumsel/ Edison
Walikota Prabumulih Ridho Yahya menyesalkan pembatalan cabang olahraga (cabor) bulutangkis pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumsel 2021 di OKU Raya. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH-Walikota Prabumulih Ridho Yahya menyesalkan pembatalan cabang olahraga (cabor) bulutangkis pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumsel 2021 di OKU Raya.

Orang nomor satu di kota Prabumulih ini kecewa dengan pembatalan tersebut, apalagi pembatalan diduga akibat adanya atlet jebolan pelatnas Cipayung dipakai beberapa daerah di ajang Porprov.

"Olahraga ini identik dengan sportivitas tapi malah kita ketahui di Porprov OKU Raya justru tidak sportif, di mana ada daerah memakai atlet di luar Sumsel. Kita kecewa dan sesalkan sekali itu," ungkap Ridho kepada wartawan, Rabu (24/11/2021).

Tak main-main, Ridho mengajak seluruh kepala daerah di Sumsel agar bersama-sama mengundurkan diri jika mendapati adanya atlet dari luar yang bertanding di ajang Porprov.

"Saya imbau Bupati dan Walikota yang sayang dengan Sumsel agar kita mundur semua jika menemukan ada atlet dari luar, biarlah kita tidak usah kirim atlet di cabor apa saja."

"Kalau ada atlet dari luar maka kita sama-sama mengundurkan diri, biarlah kita jadi subtitank saja dan orang luar yang bertanding, Itu memalukan dan membohongi diri sendiri," tegasnya.

Pria yang hobi olahraga Bulutangkis ini menegaskan, dirinya juga kecewa dengan KONI Sumsel saat ini dimana diharapkan mengutamakan atlet-atlet Sumsel dalam pertandingan Porprov namun justru masih ada mendatangkan atlet dari luar daerah.

Baca juga: Ketua KONI Palembang Blak-blakan, Sebut Daerah Lain Juga Pakai Atlet dari Luar di Porprov Sumsel

"Selain itu KONI kan selama ini menggaung-gaungkan terus pembinaan atlet, tapi justru mendatangkan atlet dari luar. Itu bukan pembinaan namanya, percuma ada kata-kata pembinaan," tegasnya.

Selain itu kata Ridho, betapa kecewa dan sedihnya atlet-atlet lokal di daerah, karena selama ini terus mengikuti latihan berharap bisa ikut bertanding diajang Porprov tetapi ketika pelaksanaan justru yang dikirim adalah atlet dari luar Sumsel.

"Coba bayangkan, kita latihan sejak lama tapi pada saat pertandingan justru tidak dipakai, kecewa gak, kecewa sekali pasti. Kapan Sumsel akan maju kalau begini terus," bebernya.

Untuk itu Ridho mendesak KONI Sumsel untuk berbenah dan jangan menjadikan kata pembinaan hanya sebagai simbol atau retorika semata.

"Karena semestinya kalau pembinaan benar-benar maka tidak boleh atlet dari luar, kalau atlet daerah kita kurang baik maka beri pelatihan maksimal dan kirim berlatih ke luar atau datangkan pelatih terbaik sehingga yakin berapa tahun kedepan Sumsel akan memiliki atlet-atlet hebat," tuturnya.

Kebiasaan memakai atlet dari luar daerah itulah diduga yang membuat Sumsel tak pernah juara pada saat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON).

"Percuma juga juara umum di Porprov kalau atlet juara itu tak bisa dipakai untuk dikirim di PON, itu harus evaluasi ke depan," tuturnya seraya mengaku atlet-atlet itu tau mana atlet lokal dan mana atlet dari luar provinsi.

Untuk diketahui, sebanyak 12 kabupaten kota di Sumsel cabang olahraga Bulutangkis mengundurkan diri dalam ajang Porprov ke XIII di OKU Raya.

12 Kabupaten dan kota di Sumsel itu sebelumnya melakukan protes keras karena menduga adanya beberapa kabupaten dan kota yang terindikasi memakai atlet profesional jebolan pelatnas Cipayung.

Hal itulah yang membuat Ketua PBSI Sumsel mengumumkan pembatalan cabor Bulutangkis dan menetapkan empat daerah yang tidak ikut protes menjadi juara.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved