Berita Palembang

Berkat Dukungan Pertamina, Penjualan Keripik Tempe Ayiek Meningkat 100 Persen

Puluhan perajin tempe di Kelurahan Plaju, Kota Palembang telah berinovasi dengan menciptakan produk olahan lewat dukungan Pertamina.

Tayang:
TRIBUNSUMSEL.COM/LINDA
Sundari sedang mengiris tempe sagu sebagai bahan baku keripik tempe di rumahnya Lorong Saleh, Plaju kota Palembang 

Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), Sundari mendapatkan dukungan mulai dari pembinaan, alat dapur, hingga pemasaran.

"Ternyata untuk menghasilkan keripik tempe yang gurih itu harus ada alat peniris minyak (spinner), dan itu saya dapat dari Pertamina," katanya.

Kini, Sundari mengaku lebih percaya diri menjajakan produk olahannya seiring kualitas yang semakin baik. 

Ditambah, kemasan produk keripik tempe Sundari tak lagi sekadar plastik biasa, melainkan telah bermerek, stiker bertuliskan Tempe Ayiek kini menempel di ratusan bungkus keripik tempe buatannya. 

"Ayiek itu nama panggilan saya. Ternyata perlu merek biar produknya makin dikenal," katanya.

Dia mengemukakan sejumlah ide dan inovasi untuk produknya itu tercipta saat Sundari telah menjadi mitra binaan Pertamina. 

Tak tanggung, Pertamina pun melibatkan kelompok mahasiswa Universitas Sriwijaya untuk berkolaborasi demi menghadirkan energi kreatif untuk UMKM tersebut.

Sementara itu,Areal Manager Communication and Relation PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU III Plaju, Siti Rachmi Indahsari mengatakan, pihaknya berupaya mengalirkan energi inovatif untuk perajin tempe yang berlokasi di ring I perusahaan.

"Tujuannya tak lain untuk meningkatkan perekonomian UMKM binaan kami," kata dia.

Menurut Rachmi, tujuan itu sejalan pula dengan salah satu poin sustainable development goals (SDGs), di mana Pertamina memberikan sentuhan inovasi teknologi untuk memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

"Kami juga berkolaborasi dengan mahasiswa untuk mendampingi UMKM binaan PT KPI RU III Plaju," katanya.

Kolaborasi itu dibungkus dalam ajang Small Medium Enterprise Empowerment Competition (SMEEC) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sriwijaya.

Dia menjelaskan dalam program SMEEC, mahasiswa diminta turun langsung, mengikuti suhu, musim dan pasang surut UMKM yang didampinginya.

"UMKM yang dibina pun bukanlah pemain baru di bisnisnya. Seperti pengrajin tempe di sentra tempe Plaju yang sudah menekuni usaha sejak puluhan tahu lalu," katanya.

Menurut Rachmi, sebelum Pertamina dan mahasiswa terjun ke sentra tempe, pengrajin masih mengolah fermentasi kedelai secara sederhana. Pemasarannya pun terbatas hanya menyasar pasar tradisional. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved