Berita Palembang

Cuaca Kota Palembang Lebih Panas dari Biasanya Beberapa Hari Terakhir, Ini Penjelasan BMKG

Beberapa hari belakangan suhu cuaca di Kota Palembang bisa mencapai 33 derajat celcius yang artinya lebih panas dari biasanya.

tribunsumsel.com/khoiril
Beberapa hari belakangan suhu cuaca di Kota Palembang bisa mencapai 33 derajat celcius yang artinya lebih panas dari biasanya. Tak hanya di siang hari, cuaca panas juga terasa bahkan saat malam hari. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Beberapa hari belakangan suhu cuaca di Kota Palembang bisa mencapai 33 derajat celcius yang artinya lebih panas dari biasanya.

Tak hanya di siang hari, cuaca panas juga terasa bahkan saat malam hari.

Kepala Stasiun Klimatologi Palembang, Wandayantolis mengatakan, Suhu udara tertinggi memang terjadi pada sekitar September dan Oktober setiap tahunnya.

Hal ini berdasarkan siklus normal suhu udara di Palembang.

"Faktor yang berperan dalam kondisi cuaca ini dikarenakan adanya gerak semu matahari yang melintasi wilayah Sumsel pada periode tersebut. Puncak panas biasanya terjadi tepat setelah titik kulminasi terjadi atau justru setelah posisi matahari telah melewati titik kulminasinya," jelasnya, Rabu (13/10/2021).

Dalam kondisi ini, suhu tertinggi justru tercapai setelah pukul 13.00 WIB, bukan pada pukul 12.00 WIB saat matahari tepat berada di atas.

Wandayantolis menjelaskan, hal Ini berkaitan dengan neraca keseimbangan panas antara radiasi gelombang pendek yang diterima dengan radiasi pantul dari permukaan bumi.

Dia mengungkapkan, dalam satu tahun gerak semu matahari akan dua kali melintasi wilayah Indonesia termasuk Sumatera Selatan.

Sebab, puncak suhu maksimum selain terjadi antara September dan Oktober juga terjadi pada sekitar April atau Mei.

"Berkaitan suhu yang dirasa lebih menyengat sejak awal Oktober ini, lebih dipengaruhi oleh berkurangnya curah hujan dalam periode yang sama," ujarnya.

"Berdasarkan pantauan Stasiun Klimatologi Palembang, pada dasarian I Oktober curah hujan yang terjadi berlangsung di bawah normal atau lebih rendah dari biasanya," ujarnya menambahkan.

Selain itu, ada juga faktor lain yang menyebabkan kondisi ini juga terjadi di Palembang.

Yakni faktor terjadinya anomali curah hujan ini juga dikarenakan siklus Madden-Julian Oscillation (MJO) pada kuadran 5 yang biasanya menekan sistem konvektif di wilayah Sumatera dan adanya siklon tropis di utara yang menyedot uap air.

"Kehilangan curah hujan tentunya mengurangi kadar kelembapan udara," jelasnya.

Dampaknya, radiasi matahari yang datang akan lebih banyak yang sampai ke permukaan bumi karena berkurangnya uap air yang biasanya dapat menyerap panas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved