Breaking News:

Kakek Hamili Anak dan Cucu

Kakek Hamili Cucu, Kata Psikolog RS RK Charitas Devi Delia:Bisa Ganggu Perkembangan Psikososial Anak

Kasus kakek rudapaksa cucu di Muara Padang Banyuasin kata Psikolog RS RK Charitas Devi Delia, MPsi karena pelaku melihat kesempatan.

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/M ARDIANSYAH
Kakek 66 tahun di Muara Padang Banyuasin inisial San saat diperiksa di Unit PPA Satreskrim Polres Banyuasin, Rabu (6/10/2021). Dia diduga merudapaksa anak dan cucu hingga hamil. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Seorang kakek warga Muara Padang Banyuasin berinisial San (66) ditangkap polisi karena diduga tega merudapaksa anak dan cucunya sendiri yang masih sekolah dasar (SD) hingga hamil.

Menanggapi hal tersebut menurut Psikolog di RS RK Charitas Devi Delia, M.Psi menuturkan salah satu tipe pemerkosa adalah tipe yang melihat kesempatan.

"Jadi ada kemungkinan bahwa pelaku melakukan ini karena ada kesempatan. Terkadang salah satu faktor pelaku melakukan pemerkosaan terhadap orang yang dikenal, karena secara pendekatan yang dilakukan akan lebih mudah," kata Devi, Kamis (7/10/2021).

Baca juga: Kakek 66 Tahun di Banyuasin Rudapaksa Anak dan Cucu, Ini Tanggapan Psikolog

Menurutnya, karena korban sudah mengenal pelaku, maka kemungkinan korban melaporkan perbuatan pun akan lebih rendah. Untuk itulah pelaku akan lebih mudah lepas dari jeratan hukum.

Lalu dari sisi si cucu yang sekarang sedang hamil, tentu anak mengalami trauma berat. Pada umumnya, para korban pemerkosaan dapat mengalami yang namanya Re-experiencing, dimana korban dapat melihat gambaran atau ingatan yang berkaitan dengan peristiwa yang dialaminya, baik saat sadar maupun saat tidur (mimpi buruk).

Mereka dapat bereaksi terhadap hal-hal yang mengingatkannya pada peristiwa yang ia alami, misalnya jika pelaku memiliki janggut, maka korban dapat menampilkan rasa tidak nyaman atau ketakutan saat bertemu dengan orang dengan janggut, dan sebagainya

"Hamil saat masih SD tentu dia tidak bisa lanjut sekolah, dapat mengganggu perkembangan psikososial anak. Dimana usia ini anak umumnya menghabiskan waktu bersama teman sebayanya, namun kini ia harus di rumah dan kelak menjaga anak yang dilahirkannya," katanya

Secara perkembangan emosi, di usianya saat ini (kelas 6 SD) masih terbilang labil, karena kemampuan mengontrol dorongan emosi di usia ini masih kurang (karena faktor hormonal). Hal ini dapat berpengaruh juga terhadap perkembangan emosi anak yang dikandungannya.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved