Breaking News:

Guru Cabul di Banyuasin

Hukuman Tepat Bagi Pelaku Kekerasan dan Asusila Terhadap Anak, Ini Kata Kriminolog Dr Azwar Agus

Terkait adanya kekerasan terhadap anak ini,  Kriminolog Ki Dr Azwar Agus SH MHum mengungkapkan semuanya harus memiliki visi yang sama melindungi anak.

Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Vanda Rosetiati
DOKUMENTASI PRIBADI
Rektor Universitas Tamansiswa Palembang juga Kriminolog Dr Ki Azwar Agus SH MHum menyampaikan menyikapi banyaknya kekerasan terhadap anak maka semua harus memiliki visi yang sama melindungi anak. 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Kasus rudapaksa atau pencabulan terhadap anak kembali terjadi di Sumsel. Sepekan terakhir terungkap tiga kali kasus pencabulan dialami anak-anak dengan pelakunya adalah orang yang dikenal bahkan seharusnya memberikan teladan.

Sebelumnya terjadi di Kabupaten PALI dan Ogan Ilir, kali ini kasus pencabulan dan pelecehan terhadap anak kembali terjadi di Banyuasin.

Pelakunya, merupakan oknum guru olahraga di Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin. Terkait adanya kekerasan terhadap anak ini,  Kriminolog Ki Dr Azwar Agus SH MHum mengungkapkan, semuanya harus memiliki visi yang sama yakni melindungi anak. Karena anak masa depan bangsa yang harus dilindungi siapapun baik orangtua, guru dan lainnya.

"Memang akhir-akhir ini, ada peningkatan tindak pidana terhadap anak yang terekspos. Melibatkan orang-orang dekat seperti guru, orangtua dan lainnya. Ini harus diwaspadai bersama dan peran serta semuanya," kata Azwar yang juga Rektor Universitas Tamansiswa Palembang, Jumat (17/9/2021).

Lanjut Azwar, kekerasan terhadap anak baik itu kekerasan baik bentuk fisik dan lainnya ada yang terekspos. Tetapi, tak jarang, kejadian-kejadian ini mungkin ada juga yang tidak dilaporkan atau terekpos.

Karena menurut Azwar, dari hasil riset yang dilakukannya ada kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan. Tetapi, banyak juga yang tidak dilaporkan. Hal ini, lantaran kasus kekerasan anak terlebih seperti pencabulan masih dianggap tabu. Ada yang tidak ingin melaporkan kejadian tersebut ke aparat penegak hukum, karena pelakunya masih orang-orang dekat.

"Harusnya, kita semua harus paham, tindakan yang tidak dibenarkan. Karena, tindak pidana itu ada aturan hukum, UUD Perlindungan Anak, peradilan anak.
Aparat penegak hukum biasanya juga sepakat, bila sudah berkaitan dengan anak pelaku harus dihukum dan dijatuhi hukuman berat. Hukuman yang maksim harus diberikan," jelasnya.

Baca juga: Kabur ke Banyuasin, Kakek Cabul di PALI Ditangkap Polisi, Berkilah Lama Tak Dilayani Istri

Lanjut Azwar, meski aparat penegak hukum sepakat menjatuhkan hukuman yang berat, tetapi kenapa kasus pidana terhadap anak masih tetap terjadi. Kasus pidana terhadap anak terjadi karena banyak faktor. Kurangnya pemahaman agama, kurang tahunya mengenai jeratan hukum dan juga tindakan boleh atau tidak boleh yang dilakukan.

"Terkadang, hukuman berat yang dijatuhkan kepada pelaku itu juga dilematis. Penegakan hukum bisa memberikan keadilan bagi korban, karena rata-rata orang dekat yang menjadi pelakunya, seperti ayah tiri atau bahkan ayah kandungnya. Disisi lain, dilematisnya orang dekat ini sebagai tulang punggung keluarga. Tetapi, saya pribadi dan mungkin juga aparat penegak hukum sepakat memberikan hukuman berat kepada pelaku kejahatan terhadap anak," pungkas.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved