Berita OKI

Ini Alasan Menyadap Karet Sebaiknya Pagi Hari, Pemilihan Waktu yang Tepat Pengaruhi Kuantitas Getah

Mengelola pohon karet juga membutuhkan teknik dan pengetahuan yang cukup supaya produktivitasnya tetap baik untuk menjadi mata pencaharian.

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/WINANDO
Pekebun karet di Desa Lubuk Seberuk, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir memindahkan getah karet beberapa waktu lalu. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Perkebunan karet menjadi komoditi penghasilan kedua setelah perkebunan sawit bagi masyarakat Sumatera Selatan, tak ketinggalan juga bagi para petani di kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Mengelola pohon karet juga membutuhkan teknik dan pengetahuan yang cukup supaya produktivitasnya tetap baik untuk menjadi mata pencaharian memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kepala Bidang Penyuluhan Pengolahan dan Pemasaran di Dinas Perkebunan dan peternakan (Disbunnak) OKI, Zulkarnain mengatakan teknik paling sederhana namun perlu diperhitungkan yaitu mengenai ketepatan waktu menyadap karet.

Kegiatan menyadap karet dapat dikatakan sebagai aktivitas yang susah susah gampang, karena banyaknya hasil getah dipengaruhi oleh cara menyadap karet yang baik dan benar.

"Bahkan seperti perbedaan waktu menyadap karet antara pagi, siang, dan sore hari pasti akan ada perbedaan kuantitas getah yang dihasilkan," ungkapnya, Kamis (26/8/2021) siang.

Menurutnya, waktu yang baik untuk melakukan penyadapan yakni di waktu pagi hari sekitar pukul 05.00 - 06.00 waktu daerah masing-masing. Dikarenakan turgor pohon karet sedang dalam tekanan yang tinggi.

Turgor diartikan sebagai tekanan pada dinding sel yang disebabkan oleh isi sel. Oleh karena itu, semakin tinggi tekanan maka semakin banyak pula lateks (getah karet) yang dihasilkan.

"Di waktu itu lateks yang dikeluarkan mengeluarkan lebih banyak dibandingkan dengan waktu penyadapan pohon karet saat siang ataupun sore hari," ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, pohon karet yang sudah dewasa dan siap untuk disadap adalah pohon yang berumur 4,5 - 6 tahun. Demi mendapatkan getah yang maksimal.

"Hal itu dilakukan untuk mencegah penyadapan yang terlalu dini yang berimbas kepada kurangnya volume lateks (getah karet) pada periode sadap selanjutnya," tambahnya.

Baca juga: PHRI Sumsel Buka Pendaftaran Calon Ketua Periode 2021-2026, Ini Syarat dan Cara Mendaftar

Diinformasikan, harga indikasi karet Provinsi Sumatera Selatan pada priode Rabu (25/8/2021) yaitu turun Rp 257 rupiah dibanding harga hari Selasa (24/8/2021) untuk Kadar Karet Kering (K3) 100 persen.

"Untuk kadar 40 persen adalah Rp 8.428, lalu kadar 50 persen yaitu Rp 10.536, kemudian kadar 60 persen Rp 12.643, selanjutnya kadar 70 persen yakni R 14.750 dan terakhir kadar 100 persen 21.071," pungkasnya.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved