Darurat Covid 19
Pemprov DKI Beri Tanggapan Temuan BPK Terkait Pengadaan Masker N95 dan Alat Rapid Test Covid-19
Pemprov DKI Beri Tanggapan Temuan BPK Terkait Pengadaan Masker N95 dan Alat Rapid Test Covid-19
TRIBUNSUMSEL.COM - BPK menemukan sejumlah kejanggalan pengeluaran di Pemprov DKI Jakarta.
Hal itu tak lepas sejumlah pemborosan Pemprov DKI pembelian perlengkapan untuk menangani Covid-19.
Untuk itu, Pemprov DKI Jakartapun memberikan tanggapannya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengklaim, Pemprov DKI telah melalui proses lelang dalam pengadaan masker N95 dan alat rapid test Covid-19 tahun 2020.
Pernyataan Ahmad Riza Patria itu saat menanggapi temuan BPK RI Perwakilan Provinsi DKI Jakarta terkait pemborosan duit hingga Rp 7 miliar terhadap pembelian masker dan alat tes Covid-19.
“Jadi, terkait kelebihan bayar masker kami sudah di BPK prosesnya, dari BPK kami nanti tunggu hasilnya,” kata Ahmad Riza Patria di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (6/8/2021) malam.
Menurutnya, proses pengadaan dan lelang barang yang dilakukan Pemprov DKI sesuai ketentuan dan peraturan.
Dia juga mempersilakan BPK untuk mengecek ulang proses pembelian dari awal ketika Pemprov DKI melakukan pengadaan masker dari dua perusahaan.
“Tentu tugas BPK secara rutin melakukan pemeriksaan. Silakan dicek prosesnya sejak awal hingga akhir, dan pelaporannya semua sudah sesuai dengan proses,” ujarnya.
Baca juga: Anies Baswedan Sebut Efek Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Lama Terjadi di Indonesia, Beri Penjelasan
Baca juga: Pemerintah Kembali Siaga, Kasus Covid-19 di Bali dan Luar Jawa Melonjak, Begini Penjelasan Moeldoko
Seperti diketahui, BPK RI menemukan pemborosan anggaran yang dilakukan Dinas Kesehatan DKI pada 2020 lalu untuk pembelian masker N95 dan alat rapid test.
Total pemborosannya sekitar Rp 7 miliar. Rincian alat rapid test senilai Rp 1.190.908.000 dan masker senilai Rp 5.850.000.000.
Untuk pembelian alat rapid test dinilai terjadi pemborosan karena harga jual di pasaran saat itu masih sangat tinggi.
Terlebih, PT NPN yang awalnya ditunjuk sebagai penyedia 50.000 alat rapid test mengalami keterlambatan pengiriman.
Lalu, Dinkes DKI menjalin kerjasama dengan PT TKM untuk pengadaan 40.000 alat rapid test.
Walaupun harganya lebih mahal, namun PT TKM bisa menyelesaikan pembelian alat rapid test itu dalam waktu empat hari.