Berita Viral
Kisah Haru Jenderal Andika Perkasa Tahu Letnan Saka Anak Brigjen Ricky Samuel Idap Kanker
Haru-biru terjadi saat Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Andika Perkasa bertemu dengan putra mendiang teman seperjuangannya di ruang rawat inap rumah sa
TRIBUNSUMSEL.COM - Haru-biru terjadi saat Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Andika Perkasa bertemu dengan putra mendiang teman seperjuangannya di ruang rawat inap rumah sakit.
Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Andika Perkasa kembali menemui putra mendiang teman seperjuangannya.
Namun pertemuan itu bukan di lapangan, melainkan di ruang rawat inap Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Andika Perkasa, beserta istri yang juga Ketua Umum Persit KCK, Hetty Andika Perkasa, bertemu dengan Letda ARM Nugra Pussaka di ruang rawat inap Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Pasalnya Letda ARM Nugra Pussaka mengidap kanker otak stadium 3.
Menurut dokter, sebagaimana kakak Nugra, Assila Amelia mengisahkan ulang, kanker yang diderita Saka sendiri menurun dari sang ibu.
Ibunda mereka, Sherly Makadada, meninggalkan karena kanker otak pada 2007, saat Nugra masih berumur 8 tahun, sebagaimana mengutip dari Kompas.com
Saka, sapaan akrab Letda ARM Nugra Pussaka adalah perwira Yon Armed 17/Rencong Sakti sekaligus putra bungsu mendiang Brigjen TNI Ricky Samuel.
Ricky Samuel meninggal dunia dalam kecelakaan Helikopter Bolkow-105/HS-7112/Riky Route, yang jatuh di kawasan perbukitan Rawa Beber, Cianjur Selatan, Senin 8 Juni 2009.
Andika bertemu dengan Saka saat berkunjung ke RSPAD pada Senin (28/6/2021) silam.
Itu diperoleh dari unggahan video kanal resmi TNI Angkatan Darat yang rilis pada Kamis (5/8/2021) pagi.
Pertemuan itu disambut haru oleh Andika beserta Hetty.
Sewaktu Nugra mengisahkan kronologi terkena kanker, terlihat Hetty mengusap air mata.
Nugra membuka ucapan soal kronologi terkena kanker dengan nada pasrah.
"Siap, mungkin sudah rencana dari Atas," ujar Nugra membuka omongan kepada Andika.
Jawaban Nugra tak memuaskan Andika hingga bertanya lebih rinci.
"Itu jawaban yang paling mudah, enggak, apakah ada yang dirasakan atau kebiasaan?" tanya Andika balik.
Nugra menyebut kondisinya sehat-sehat saja hingga mulai merasakan ada benjolan.
Benjolan itu, aku Nugra, baru dirasakan sejak November 2020, empat bulan setelah selesai pendidikan sebagai taruna Akmil pada 6 Juli 2020.
"Awalnya ada sehat-sehat saja, namun tiba-tiba ngerasa ada benjolan," tutur Nugra.
"Mulai kapan itu tahunya?" tanya Andika.
"Siap, tahun lalu, bulan November," lanjut Nugra.
Seketika saja, Andika teringat sesuatu.
"Lho, waktu itu 'kan Juli, 'kan yang tahun lalu, baru lulus 'kan?" ingat Andika.
Saat itu, Andika menghadiri upacara penutupan pendidikan dan wisuda sarjana taruna Akmil 2020, di Magelang, pada 6 Juli 2020 silam.
"Tahunya ada benjolan itu bulan November, tapi enggak sakit," sebut Nugra.
Nugra kemudian memeriksakan diri ke Kesdam Iskandar Muda di Aceh, tetapi dokter mengatakan hanya mengalami infeksi.
"Makanya hanya dikasih antibiotik," lanjut Nugra kepada Andika.
Namun Nugra kembali memeriksakan diri di RSPAD sewaktu mengikuti penataran di Cimahi, Jawa Barat pada Maret silam.
Nugra berinisiatif memeriksakan diri lagi karena benjolan belum kempes-kempes.
Mendengar inisiatif itu, Andika dan Hetty memuji tindakan anak sahabatnya.
"Itu inisiatif?" tanya Andika yang dibalas balik.
"Inisiatif," balas Nugra.
"Bagus," balas Andika sampil melemparkan tanda OK.
"Pinter," sahut Hetty.
Karena belum kempes-kempes.
"Tapi enggak ada perbesaran gitu, enggak ada?" tanya Andika.
"Siap, tidak ada, tapi masih nyeri kadang-kadang," balas Nugra.
Namun Nugra harus menerima kenyataan bahwa dia dinyatakan positif menderita kanker stadium 3.
"Cek temu Marker, ternyata positif (mengidap kanker)," imbuh Nugra.
Kemudian Andika menanyakan kepada kakak Nugra, Assila Amelia yang dipanggil, Asa soal kepergian ibu mereka.
Pasalnya dua tahun sebelum Ricky gugur (2009), ibunya meninggal karena mengidap kanker otak.
"Jadi, Mama juga meninggal waktu itu karena kanker, kanker otak, karena waktu itu udah dioperasi, sempat dioperasi pertama kali.
Terus udah sembuh, tapi sempet kambuh lagi sekitar dua tahun kemudian.
Akhirnya dioperasi lagi tapi udah enggak bangun.
(Terdiam sejenak) Mungkin kalo kata dokter juga ada kemungkinan genetik," kata Asa.
Seusai mendengar penuturan itu, Andika lantas memerintahkan agar Letda Nugra tetap menunggu di RSPAD sembari menjalani empat putaran kemoterapi.
Nugra sendiri baru menjalani putaran pertama kemoterapi.
"Ya udah, jadi ini 'kan baru putaran pertama," ujar Andika.
"Kemo(terapi) atau radio(terapi)?" tanya Andika kepada perwira bawahannya.
"Kemo," jawab perwira di belakangnya.
"Habis ini kedua, kedua ini (memakan waktu menunggu) tiga minggu, enggak usah pulang," lanjut Andika.
Maka, Andika minta untuk menghubungi Kakesdam Iskandar Muda ketika itu, Kol Ckm dr.Ismi Purnawan,Sp.JP (K) M.A.R.S., FIHA, yang menjabat sampai 28 Mei lalu.
"Kasih tahu dr Ismi, perintah saya, Letnan Saka menunggu untuk putaran kedua kemoterapi di Jakarta sampai selesai keempat," tegas Andika dengan nada bergetar.
"Oleh karena itu Kakesdam melapor kepada Pangdam bahwa ini adalah perintah saya," pungkas Andika.
Sikap itu wajar diambil oleh Andika kepada keluarga mendiang Ricky Samuel.
Kepada kedua anak mendiang Ricky, Andika mengatakan sangat menghormati mendiang Ricky sejak masih pendidikan di Akmil.
"Om sangat hormat sama Papa, sejak waktu dulu di Akmil.
Papa sudah mau lulus, Om masih ingat, Papa adalah salah seorang idolanya Om," aku Andika kepada Nugra dan Asa.
"Betul itu," sahut Hetty.
"Mungkin sekitar dua minggu sebelum kecelakaan, Om 'kan dateng, ke Batujajar, waktu itu.
Andika menyambung cerita berada di Batujajar, dua minggu sebelum kecelakaan yang menimpa Ricky.
"Om masih Letkol enggak naik-naik pangkat waktu itu, kalo Papa Kolonelnya udah lama.
Padahal kita beda satu tahun. Papa itu orang bagus," lanjut Andika.
Maka, Andika ingin sekali meneruskan cita-cita temannya dengan mengupayakan kesembuhan Saka dari kanker stadium .
"Makanya, Saka bisa meneruskan cita-citanya Papa, Asa bantu.
Harus kuat, dan punya keinginan, ingat itu dimulainya dari sini (menunjuk dada),
'Saya harus sembuh, saya bisa sembuh, saya bisa sembuh, (nadanya menaik), saya pasti bisa sembuh,',
Saya mau melihat asa, kita berdua harus mewujudkan cita-cita Papa-Mama," pesan Andika kepada Nugra dan Assila.
Seusai mendoakan kesembuhan, Andika dan Hetty pamit kepada dua anak sahabatnya itu.
"Oke, Saka, harus sembuh, harus bisa dan bisa, tetap pasti bisa," tutup Andika.\
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/kepala-staf-tni-ad-jenderal-tni-andika-perkasa-dengan-letda-arm-nugra-pussaka.jpg)