Breaking News:

Berita Banyuasin

Awan Penghujan Mulai Sedikit, Lahan Gambut Mengering, BPBD dan BMKG Siap Modifikasi Cuaca

Awal-awal sekarang, memang sangat tepat dilakukan TMC. Setidaknya, dengan TMC yang dilakukan awan penghujan yang disemai bisa menarik uap air.

Penulis: M. Ardiansyah
Editor: Vanda Rosetiati
DOK TRIBUN SUMSEL.
Tahapan operasi modifikasi cuaca, Tim gabungan terdiri dari unsur TNI, BPBD, BPPT MC menyiapkan bahan semai diangkut menggunakan pesawat Cassa. Foto ilustrasi. 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Dari analisa yang dilakukan BMKG SMB II Sumsel, awan penghujan yang ada di langit Sumsel memang masih.

Akan tetapi, untuk saat ini pertumbuhannya sudah mulai berkurang. Sehingga, pihak BMKG SMB II Sumsel menyarankan juga untuk wilayah yang rawan terjadinya karhutla untuk mengantisipasi sejak awal.

Menurut Kasi Observasi dan Informasi BMKG SMB II Sumsel Veronica Shinta Andriyani, di bulan Juni-Juli merupakan awal masuk musim kemarau. Puncaknya, musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus-September.

"Hujan ringan masih ada potensi hujan. Tetapi, itu sangat kecil karena perkembangan awan penghujan mulai sedikit. Maka dari itulah, kondisi di Sumsel ini mulai kering terutama untuk wilayah yang tanahnya gambut," ujarnya, Kamis (10/6/2021).

Lanjut Shinta, dari pihak BPBD Sumsel juga telah berkoordinasi dengan BMKG untuk melakukan modifikasi cuaca. Metode modifikasi cuaca dengan cara penyemaian awan hujan memnag harus dilakukan.

Menurutnya, TMC bertujuan untuk mempercepat tumbuhnya awan hujan yang saat ini mulai kecil. Ada potensi awan hujan yang dilakukan penyemaian, bisa membuat awan penghujan yang tadinya kecil bisa tumbuh dan menghasilkan hujan.

Baca juga: Babi Hutan Ditemukan Mati Karena Flu Babi, Apakah Menular ke Manusia? Ini Penjelasan Dokter Hewan

Meski, metode ini tidak dapat menghasilkan hujan dengan itensitas lebat. Hanya saja, setidaknya dengan turunnya hujan dengan intensitas rendah atau sedang dapat membasahi wilayah yang memiliki lahan gambut.

"Awal-awal sekarang, memang sangat tepat dilakukan TMC. Setidaknya, dengan TMC yang dilakukan awan penghujan yang disemai bisa menarik uap air untuk memicu terjadinya hujan. Kami harapkan kepada masyarakat, saat ini untuk waspada siaga. Bila sudah terjadi akan sulit padam, karena kondisi cuacanya kering," ungkap Shinta.

Terlebih, angin yang saat ini bertiup merupakan angin timur. Angin ini, menandakan angin musim kemarau. Kondisi kering akan lebih cepat terjadi dan tiupan angin timur, sewaktu-waktu bisa meningkat kecepatannya.

Hal ini, berpengaruh terhadap kondisi cuaca yang kering. Apabila sudah terjadi karhutla dan dibantu tiupan angin timur maka lebih cepat membakar lahan.

"Kecepatan angin saat ini 10 sampai 20 kilometer per jam. Namun, sewaktu-waktu, bisa terjadi peningkatan kecepatan angin. Ini juga perlu diwaspadai. Kami himbau, ini bukan hanya peran serta pemerintah dan instansi pemerintah saja. Masyarakat juga perlu ikut serta menjaga, jangan sampai malah ikut membakar," pungkasnya.

Ikuti Kami di Google Klik

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved